Minggu, 21 Agustus 2011

Anak Autis


Doni anak autis, bungsudari tiga bersaudara. Kini umurnya sudah 15 tahun, bertubuh tinggi, sedikit agar kurusan dibanding tubuhnya. Dia hanya mau kenal dan dekat dengan mamanya. JIka dia sudah dekat denganmamanya, tak seorang boleh dekat. Dia akan mengauk sejadi-jadinya dan memecahkan apa saja yang ada. Dimana saja diaminta dikeloni oleh mamanya. Papanya saja kalau dekat pada mamanya saat dia sedang
minta dikeloni, tak berani dekat. Mamanya pun setiap malam harus tidur lebih dulu di kamar Doni. Setelah Doni terlelap, biasanya dia tidur tak pernah bangun jika matahari belum terbit, barulah mamanya pindah ke tempat tidurnya dan tidur dengan suaminya.
Doni sekolah di sekolah autis mulanya, kemudian dengan pendidikan yang baik, dia boleh masuk SMP dan kini sudah kelas tiga.
"Sudah sana Don. Mama lagi masak," kata mamanya ingin melepaskan diri dari pelukan Doni anaknya. Tapi Doni terus memeluk mamanya dari belakang dan menciumi mamanya, pada tengkuk dan lehernya.

Sering mamanya terangsang dalam pelukan Doni. Perempuan mana yang tak terangsang, saat lehernya dijilati dan teteknya dielus-elus oleh laki-laki. Tapi yang melakukannya adalah anak kadungnya sendiri. Jika dilarang, biasanya Doni akan mengamuk dan marah. Atau mengunci diri di kamar, tak mau keluar sampai sehari semalam tanpa makan dan minum. Saat begitulah mamanya menjadi kasihan padanya dan membujuknya agar mau keluar dan makan. Hanya mamanya yang bisa membujuknya. Tak seorang yang bisa berhasil membujuknya jika bukan mamanya sendiri.

Mamanya pun selalu menangis. Saat-saat Doni mencumbuinya, mamanya tak mampu berbuat apa-apa dan terpaksa membiarkannya, lalu berada dipuncak dan gemetaran antara senang dan takut dosa, akhirnya harus pasrah dan orgasme. Saat pada puncaknya, mama Doni selalu lupa siapa yang membuatnya orgasme. Begitu selesai orgasmenya, dia pun sedih dan menetskan air mata. Karena terlalu sering demikian demikian, akhirnya mamanya pasrah dan tak ada cara lain, selain menikmati cumbuan anaknya sampai dia orgasme. Saat dia orgasme, cumbuan anaknya bukan selesai, hingga tak jarang si Mama harus orgasme sampai dua kali. Sementara ketika berhubungan dengan suaminya, dia tak pernah mendapatkan orgasme, tau-tau dia sudah hamil.

"Dodi... sebentar sayang, mama siapkan dulu ikannya, nanti Dodi boleh peluk mama lagi," kata si Mama. Tapi Dodi tak mau diam. Di rumah itu, hanya mereka berdua dan Dodi biasanyajika berdua, akan bebas melakukan apa saja kepada mamanya. Seperti hari itu, dia sudah melepas daster mamanya sampai mamanya tingal memakai bra dan celana dalam saja. Si Mama terus membersihkan ikan dan memotong-motongnya, lalu mencampurnya dengan garam dan asam. Tiba-tiba pengait bra si Mama sudah terbuka dan Dodi melepasnya. Tetek si Mama berjuntai tanpa pembungkus lagi. Ingin rasanya dia marah pada Dodi. Tapi...

Begitu si Mama menaikkan kuali ke atas kompos, Dodi beraksi lagi melepaskan celana dalam mamanya. Memaksa celana dalam itu lepas dari tubuh si Mama.
"Kamu mau apa sayang. Kenapa mama ditelanjangi?" tanya nya. Dodi hanya tertawa saja. Tawa khas anak autis. Si Mama pun mengelus-elus kepala Dodi agar dia mengizinkannya untuk memakai pakaiannya kembali. Saat itu Dodi melepaskan pakaiannya. Dan...

Si Mama sangat terkejut, melihat kontol anaknya begitu besar. Seperti percaya atau tidak, matanya melotot melihat kontol anaknya. Jauh lebih besar dari milik suaminya Papa Dodi. Besar, panjang dan keras. Saat itu juga darah si Mama berdesir. Apakah benar ini kemaluan laki-laki? Anak usia 15 tahun? Oh...

Untuk membuktikannya, si Mama memegang kontol anaknya itu. Lalu dia gigit lidahnya sendiri. Terasa sakit. Benar, dia tidak bermimpi. Saat itulah Dodi memeluknya dan desir darah si Mama semakin kuat. Lalu Dodi mengatakan ingin melakukan, sebagai mana si Mama dengan Si Papa? Ha....

Mungkin Dodi pernah mengintip atau bahkan sering mengintip mereka sedeang bersetubuh. Entahlah. SI Mama pun diseretnya ke kamar tidur.
"Jangan Dodi. Jangan sayang..." pinta si Mama memelas. Tapi tenaga anaknya jauh lebih kuat. Mama ditelentangkan di tempat tidur dan langsung dijilati dan dipeluk. Berulang-ulang dengan buas dan tatapan mata yang sangat menakutkan. Sejak di dapur si Mama sudah berdesir-desir. Kembali dengan pasrah dan tetesan airmata, Mama pun membiarkan anaknya itu. Dengan kasar, Dodi mengangkangkan kedua paha mamanya. Dia menindihnya dan menuntut kontolnya memasuku lubang memek mamanya. Memek yang basah langsung dia tekan. Terasa begitu seret dan kontol itu memenuhi lubang memek ibunya.

Si Mama tak mampu membendung hasratnya, saat anaknya itu mulai menjilati lehernya dan meremas-remas teteknya dan menarik cucuk kontolnya di lubang si Mama. Kontol itu begitu penuh. Seperti baut dengan murnya. Tak ada sedikitpun yang tersisa pada gesekan dinding memek dengan kontol anaknya. Setiap tarikan dan tusukan, sepenuhnya dinding memeknya semua tergesek, bersentuhan antara kontol dengan dinding memek. Ah....

Si mama sudah tak mampu bertahan. Dia memeluk erat tubuh anaknya dari bawah. Seingatnya, selam hidupnya, dia belum pernah merasakan kenikmatan seperti itu. Dan dia pun memeluk sekuat tenaganya sampai nafasnya tersengal dan memeknya semakin basah dalam orgasmenya sendiri. Lalu tubuhnya melemas. Anaknya tyerus memompa dan memompanya, seperti tak kenal lelah dan tak kenal puas, tak kenal orgasme.

Tusuk-cabut yang dilakukan Dodi, iramanya kostan. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lamban. Bagaikan hitungan kondaktor dalam sebuah orkestra, pompaan kontol Dodi di memek mamanya, bagaikan tempo 3/4. Terus... terus dan terus, tanpa henti, tanpa istirahat dan terus. Si Mama sudah sangat basah. Dia harus pandai mengimbangi untuk menetralkan nafasnya. Lima menit kemudian, nafasnya kembali normal dan Dodi terus memompanya. Si Mama pun tak mengangkat kedua kakinya. Hanya saja kedua telapak kakinya menempal ke kasur dan lututnya membengkok ke atas.

Dodi tekadang menindih mamanya, terkadang berlutut memompa kontolnya. memek mamanya semakin basah dan basah. Mama berupaya membuka matanya. Dia bertatapan dengan mata anaknya. Mata dan wajah tanpa ekspresi dan terus memompa tanpa rasa lelah.
"Sudah sayang... mama sudah lelah," bujuk mamanya. Dodi tak menjawab, Pompaannya dia teruskan dengan ritma yang tetap tanpa perubahan. Kembali Dodi memeluk mamanya dan menciumi lehernya dan meremas-remas tetek si Mama. Kini si Mama tak mampu pula berdiam diri. Dia mulai bereaksi dan memeluk anaknya. Haruskan aku orgasme lagi, bathinnya.

Saat itulah dia memberikan respons kepada Dodi saat pompaan Dodi semakinkuat dan kencang dengan hunjaman-hunjaman yang luar biasa buas dan ganas. Nafasnya sudah memburubagaikana kuda yang berlari kenang. Tusuk-cabut... tusuk cabut dan seterusnya. Semakan lama semakin kencang. Bukan hanya kontol Dodi yang bergesekan dengan dinding memek mamanya. Kini tubuhnya terutama bagian dada dan perutnya bergesekan dengan perut dan tetek mamanya. Semua tubuh mamanya bergoyang. Suara tempat tidur tak bisa dihempang dan berdenyit-denyit.

"Ayo cepat sayang, mama suadah mau sampai... cepat sayaaaaang," desah si Mama. Dodi benar-benar seperti kesetanan. Dia terus memompa mamanya semakin cepat dan cepat dengan desah nafas yang benar-benar menakutkan. Desah nafas kuda atau desah nafas lembu yang ganas dan kasar.
"Dodiiii....." teriak mamanya tanpa sadar menggema di ruangan kamar itu. Dodi terus memompanya semakin cepat lagi, semakin keras dan semakin kasar.
"Maaaaaaaaaaaa......." Kini Dodi yang berteriak kuat. Di tekannya kuat-kuat kontolnya ke dalam memek mamanya sampai benar-benar kandas ke dalam dan menindih tubuh mamanya dengan kuat dari atas. Crooooooooooottt... crooooooottt... croooott.....crooot...crot.. Sepermanya berbuncah-buncah melepas dari kontolnya. Desah nafas tersengal Dodi dan mamnya memburu. Mamanya memejamkan matanya. Letih dan lelah. Dodi juga melemas dan terkulai di sisi mamanya.

Nafas mereka akhirnya normal. SI Mama mengambil dasternya dan memakainya tanpa bra dan celana dalanm, langsung ke kamar mandi di kamar anaknya dan mencucinya. Dia pun ke dapur meneguk air putih dengan berkali- kali tegukan. Dia menyodorkannya kepada Dodi untuk meneguk air putih itu. Dodi meneguknya.

Si Mama menruskan pekerjaannya. Minyak ditruang ke dalam kuali dan dia mulai menggoreng ikan kemudian untuk disambal. Gorengan sudah selesai. Api dimatikan, tinggal membuat cabai ke blender untuk menyambal ikan. Dia merasakan kupasan yang tak terhingga atas kejadian yang baru saja terjadi dengan anak kandungnya.

TIba-tiba Dodi datang, masih bertelanjang bulat. Si Mama melihat kontol Dodi mash mengeras dan berdiri tegak. Si Mama tersenyum. Dodi malah menubruk mamanya dengan pelukan.
"Kenapa sayang....?" tanya si Mama. Dodi terus memeluknya dan membuka kancing dasternya lalu mengisap-isap teteknya.
"Sudah sayang, besok lagi ya?" katanya membujuk lalu membalikkan tubuhnya mendekati belender. Saat itu Dodi menarik dasternya ke atas dan pantatnya yang putih mulus terlihat. Si Mama meneruskan pekerjaannya. Tapi Dodi amengangkangkan kedua kakinya. Dan Dodi pun menyodokkan kontolnya dari belakang ke memek mamanya. Daridepan dua jari Dodi membukakan lubang memeknya agar kontolnya bisa memasuki lubang itu. Mamanya berpikir, kalau berdiri nanti Dodi kan capek sendiri lalu kontol itu akan tercabut sendiri.

Tidak demikian keadaannya. Kontol itu memasuki lubang memek mamanya. Lebih separuh. Mamanya membiarkannya saja sembari terus mengerjakan pekerjaannya, agar nanti kedua anaknya pulang kuliah mereka langsung makan. Tapi kocokan kontol anaknya membuatnya tak mampu konsentrasi mengerjakan pekerjaannya. Tanpa sadar akhirnya dia menunggingkan tubuhnya dan bertumpu pada meja dapur yang terbuiat dari marmer itu. Dodi semakin leluasa memompanya dari belakang. Dia memutar-mutar kontolnya di lubang mamanya. Lama. Lebih setengah jam. Akhirnya si Mama orgasme. Lemas. Dia berupaya melepaskan kontol anaknya dari memeknya dan berhasil.
"Sudah... sudah..." katanya dan berlari ke kamar. Dodi mengejarnya, menangkapnya dan membaringkannya di tempat tidur dan memasukkan kontolnya dengan paksa lalu memompanya. Ada setengah jam juga Dodi memompanya, sampai mamanya, sempat orgasme dua kali lagi. Dia pun menangis. Dan pergi meninggalkan anaknya.

Akhirnya si Mama mengancam. Jika terus dilakukan mamanya akan pergi meninggalkan dirinya. Dodi puketakutan. Akhirnya, Dodi menyetujui, kalau mereka hanya melakukannya tiga kali seminggu. JIka sudah tepat hari dan waktunya, si Mama harus memebawanya ke tempat lain. dodi tidak mau melesat pada janji. Mereka melakukannya. Kini justru si Mama yang tak mampu melepaskan anak kandungnya. Mereka melakukannya secara teratur dan penuh rahasia. Ternyata anak autis juga mampu menjaga rahasia

1 komentar: