Minggu, 21 Agustus 2011

Bombom dan Ibunya


Kenapa Ma? Tanya Bombom kepada ibunya yang sedang duduk di sudut kamar dan melamun sendiri. Ibunya mendongak mengangkat wajahnya. Di tatapnya wajah Bombom dengan sendu. Kelihatan jelas Bombvom geram. Pasti ayahnya mabuk lagi dan memarahai atau memukul ibunya. Bombom mendekati ibu kandungnya.

Ayah Bombom, bukanlah ayah kandung. Sejak kematian ayahnya, ibunya kawin lagi dengan seorang laki-lak
i duda tanpa anak. Harta peningalan ayah Bombom masih sangat banyak. Itulah yang menghidupi mereka selama ini. Sementara ayah tiri Bombom, boleh dikatakan numpang hiudp dan numpang harta. Banyak harta yang sudah terjual habis, karean hobby ayah tiri Bombom suka bermain judi, main perempuan dan mabuk.
"Ibu sudah mengambil keputusan. Tadi ibu sudh menggugat cerai bajingan itu ke mahkamah syariah," ujar ibu Bombom.
"Bagus!" Jangan takut. Kita bisa memulai usaha dan kita akan hidup dengan tenang dan damai." Bombom memberikan semangat kepada ibunya.

Keputusan mahkamah syariah memutuskan, perceraian terlaksana. Betapa senangnya perasaan ibu dan anak itu. Mereka memulai hidup baru. Toko yang selama ini semakin lama isisnya makin habis, mulai mereka isi kembali. Dua bulan lamanya, toko itu hidup kembali. Bombom setiap pulang sekaolah, dia langsung membantu ibunya menjaga toko menjadi tenaga sukarela. Sementara dua orang gadis, ikut membantu ibunya. Mereka hidup bahagia.
Setelah toko ditutup, mereka pulang naik mobil ke rumah. Bombom yang setir. Kalau malam polisi jarang ada di jalan, dan Bombom boleh menyetir. Bulan depan, dia baru cukup umur mendapatkan SIM A. Saat itu hujan lebat sekali dan jalanan sepi. Dengan hati-hati Bombom memnyetir dengan tenang sembari menghidupkan musik sendu, menambahh suasana semakin romabntis. Tak lama mereka tiba di rumah. Sebelum turun dan mobil, BNombom menarik tengkuk mamanya dan mencium pipi mamanya dengan lembut. Betapa senangnya ibunya mendapat perlakuan seperti itu yang sudah lama tak pernah dia terima dari laki-laki, kecyuali dari almarhum suaminya dulu. Mereka memasuk rumah. Bombom memeluk bahu ibunya dengan mesra. Masing-masing memasuki kamar dan mandi. Saat mandi, perasaan ibu Bombom bernama Netty menajdi lain. Ciuman di pipi dan rangkulan Bombom membuatnya bergairah. Libidonya timbul dan ingin diperlakukan lebih mesra lagi. Saat makan malam, Netty sengaja duduk sangat denkat dengan Bombom. Di suapinya anak semata wayangnya itu. Sementara tangan Bombomterus menerus merangkul pinggang ibunya. Netty begitu bergairah diperlakukan demikian. Dia lupa kalau anaknya yang baru duduk di kelas 2 SMA itu membuatnya nafsu.

Hujan masih saja deras. Suara petir sabung-menyabung dan menakutkan. Curah hujan seperti tertumpah dari langit. Mereka naik ke lantai dua. Netty minta ditemani tidur di kamarnya. Berdua mereka menutupi diri dengan selimut. Bombom memeluk ibunya erat dan desah nafasnya di leher netty, membuat gairah Netty semakin meninggi. Netty merapatkan bibirnya ke bibir Bombom. Dipagutnya bibir anak itu dan diisapnya. Bombom langsung membalasnya dengan gairah pula.
"Ma...kita telanjang aja yuk. Biar enak..." kata Bombom. Netty tak menjawab dan langsung saja membuka seluruh pakaiannya. Mereka berdua sudah telanjang bulat dan tertutupi selimut.
"Bombom isap tetek Mama, ya sayang..." kata Netty sembari langsung menyosorkan teteknya ke mulut Bombom. Bombom juag langsung emngisapi tetek montok itu. Ah...Netty semakin bergairah dan dia meremas-remas kemaluan anaknya itu. Semuanya sudah lupa. Dia lupa Bombom adalah anaknya dan dia adalah ibu yang melahirkan Bombom.

Berganti-ganti tetek Netty diisapi Bombom. Bombom yang masih lugu itu, hanya tau bagaimana soal seks dari buku-buku dan dari BF yang sering dia tonton bersama teman-temannya. Dia juga baru sekali ngentot dengan pelacur kelas teri.
"Bombom naiki Mama dan masukkan kontol Bombom ke dalam memek Mama," kata Netty mengajuk. Bombom langsung menindih tubuh ibunya. Netty mengarahkan kontol anaknya itu ke dalam memeknya.
Sejak dari mobil Netty sudah gairah betul. Saat mandi dia sangat bergairah. Ketika makan dia sudah bergairah bahkan ada lelehan cairan kental di bibir memeknya. Dia sudah sangat menginginkan memeknya dimasuki benda yang bernama kontol itu.

"Enak sayang...terus tekan kontolmu ke memek Mama sayang. Tekan kuat-kuat," kata Netty. Bombom terus melakukan perintah ibunya itu. Dia kelihatan demikian bergairah sekali. Keduanya saling mendekap, saling mengoyang dan saling menjilat.
"Ma...enak Ma..."
"Mama juga sayang. Teruskan," kata Netty.
"Tapi Bombom udah mau keluar, Ma...."
"Mama juga udah mau keluar sayang. Mari kita keluar sama-sama," kata Netty. Begitu bergairahnya mereka melakukan persetubuhan, hingga mereka sudah tidak lagi mendengar suara petir yang saling sabung-menyabung di luar sana dan air sudah memasuki rumah mereka di landai dasar. Hamalan rumah saudah banjir, penuh air. Mungkin air itu entah darimana datangnya. Tapi memek Netty sudah juga dipenuhi oleh sperma Bombom anaknya itu yang jelas datangnya dari Kontol Bombom.

"Enak sekali sayang..." kata Bombom. Terkejut juga Netty mendengar panggilan itu.
"Mama juga enak..." kata Netty, tapi bibirnya langsung ditutup oleh Bombom.
"Sejak sekarang, aku bukan lagi anak mama. Tapi aku kekasih mama, suami mama. Mama juga sudah menjadi kekasihku dan isteriku," kata Bombom berterus terang. Netty terharau dan tersenyum mendengfar ucapan anaknya itu. Mungkin jiwa remajanya, pikir Netty. Tapi begitu selesai membersihkan diri ke kamar mandi, Bombom mengatakan:" Netty sayang, kita tidur ya. Biar besok kita tidak ngantuk."
Langsung dipeluknya Netty dan diciuminya pipinya dan keningnya dengan kasih syaang.
"Tidak akan ada lagi yang mengganggu kita. Hidup kita kini adalah yang paling indah," kata Bombom. Netty mengangguk dan masih merasa haru dan geli. Dalam hati dia mengakui juga. Kenapa harus takut lagi? Bukankah Bombom akan melindunginya, sebagai ibu, sebagai kekasih dan sebagai isterinya? Netty akhirny amemutuskan, kalau sejak malam itu, Bombom adalah anaknya, kekasihnya dan suaminya dan itu dibisikkannya ke telinga Bombom yang kemudian memeluknya semakin kuat dan erat.

Berdua mereka mandi dan kemudian sarapan pagi. Berdua mereka pergi meninggalkan rumah. Bombom diantar ke sekolah dan ibunya pergi ke toko. Begitu turun dari mobil, Bombom berbisik:" Sayang jaga dirimu baik-baik. AKu menuntut ilmu dulu ya sayang..." Netty tersenyum. Begitu mobil mau bergerak Bombom mengucapkan salam, daaaagggg Mamamaaaaaa...

Netty mengerti, aklau berdua mereka akan menajdi kekasih dan suami-isteri, tapi kalau di hadapan umum mereka tetap ibu dan anak.
Sampai suatu malam, Bombom menyampaikan keinginannya. Dia sudah mahasiswa. Dia ingin punya anak. Netty berpikiran kalau anaknya itu ingin menikah dan Netty senang sekali. Tapi Netty sangat terkejut, ketika keinginan punya anak itu, bukan dari perempuan lain, melainkan dari Netty sendiri. Tentu saja Netty tak mau. Bombom memaksa. Akhirnya mereka kompriomi. Ketika itu usia Netty sudah 38 tahun. Resiko melahirkan sangat besar. Akhirnya diambil kesimpulan, kalau Netty tidak melahirkan, tetapi melalui caesar.

Dengan tidak merasa takut, mereka terus melakukan persetubuhan mereka. Sampai akhrinya keputusan dokter menyatakan, Netty hamil. Betapa senangnya hati Bombom dan hati Netty. Usaha mereka demikian pesat majunya. Mereka suadh membeli sebuah rumah lagi berjauhan dari rumah mereka. Cabang usaha mereka juga sudah ada di kota lain, sementara harta peninggalan ayah kandung Bombom juga masih melimpah. Saat kandungan Netty tiga bulan, mereka pergi ke luar negeri dan menikah di sana dengan tenang, tanpa ada yang mengetahuinya. Sepulang dari luar negeri, mereka pindah rumah dan pindah kota. Semua keluarga dan family tidak diberitahu. Bombom dan Netty sah menjadi suami istreri menurut surat yang ada pada cacatan sipil di luar negeri. Begitu anak itu lahir dan berusia 4 bulan. Bombom dan ibunya pindah ke luar negeri. Ibunya terus berusaha membuka toko kecil dan harta mereka depositokan, sementara Bombom membuka sebuah perusahaan. Mereka hidup benar-benar bahagia dengan perbedaan usia 22 tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar