Minggu, 21 Agustus 2011

Dendamku (3)

Setelah abangku yang nomro dua dan adikku, aku akan melampiaskan dendamku pada abangku yang paling tua. Namanya Nasrun 25 tahun, bertubuh tinggi berotot, hitam legam dan kuat. Dia temperamental dan suka marah, bahkan pernah menamparku beberapa kali jika aku salah, walau aku adalah anak perempuan satu-satunya dalam keluarga kami.

Aku diperkosa, bukan kemauanku. Bahkan sampai tiga kali. Justyru aku yang diminta diam dan dimarahi habis-habisan. Semua menyalahkan aku dan aku tak boleh bicara soal ini, karean ini adalah aib keluarga.
Panen sudah usai. Kini sawah, akan dikeringkan dan akan dibabat, lalu akan dibuatkan bedengan, akan ditanami kedelai, agar nanti sawah jadi subur lagi saat menanam padi. Harus kerja keras, karean ayahku sebagai orang terkaya di desa kami ingin terus menambah lahan perladangan. Banyak sudah lahan orang lain yang kepepet dibelinya. Katanya untuk diwariskan kepada kami anak-anaknya dan cucunya nanti.

Soal membabat, Abang Nasrun ahlinya. Aku ditugasi membantunya, untuk membawakan makan siang sepulangku sekolah dan menyerakkan batang padi yang sudah dibabat, agar kering dan nantinya akan dibakar, agar bias menjadi pupuk. Sengaja aku tidak memakai BH. Aku pakai baju kaos oblong yang tipis dan rok kembang dan aku tidak memakai celana dalam. Abangku yang galak ini, harus kutaklukkan. Aku akan menggodanya, biar semuanya tuntas. Aku melayaninya makan siang. Au sengaja menunduk agar tetekku yang ranum kelihatan. Saat makan aku sengaja menyibakkan rokku seaakan tidak sengaja sampai pangkal pahaku kelihatan. Sembari makan, aku dengan hati-hati meliriknya. Hmmm… matanya mulai melirik pahaku dan bayangan tetekku di kaos oblong yang tipis.

Kususun pirng dan rantang bekas makanan ke lantai dangau. Aku melihat seekor tikus mulai mendekat, mau memakani sisa makanan kami. Otak berpikir keras. Tikus ini akan kumanfaatkan. Benar saja, begitu tikus mendekat, aku menjerit dan menghambur ke pangkuan Nasrun dan memeluknya kuat-kuat. Kurapatkan buah dadaku ke dadanya yang tak memakai baju dan baru kering keringatnya. Kupeluk tubuhnya dan kutempelkan wajahku ke lehernya, seakan aku ketakutan. Nasru mulau mengelus punggungku dengan lembut.
“Udah jangan takut. Kan ada aku Mas mu,” katanya lembut seakan melindungiku. Aku sudah merasakan kemaluannya yang keras di balik celana pendeknya. Dia mau turun mengisur tikus itu, tapi aku tak mau turun dari pangkuannya, seakan aku ketakutan sekali.
AKhirnya dia mengambil kayu dan masih mengendongku dia mengusir tikus.
“Sudah,” katanya. Tapi aku tak mau turun, sepertinya aku trauma. Dia mengelus punggungku. Saat itu sebelah tanganku menaikkan kaos oblongku ke atas dari depan dengan hati-hati, agar dia tak mengetahuinya. Perutku dan perutnya mulai berlaga. Kulit kami sudah saling gesek. Aku merasakan kontolnya semakin mengeras. Tangannya sudah menyelusup ke bali kaosku yang mengelus kulit punggungku. PErlahan dengan hati-hati aku menaikkan bajuku bagian depan semakin tingi. AKhirnya buah dadaku sudah berlaga dengan dadanya. Aku merasakan nafasnya semakin memburu. Dia mulai mengelus tetekku. AKu priotes.
“Mas… jangan. Nanti diilihat orang. Malu Mas,” kataku.
“Udah, kamu diam saja,” katanya setengah membentak. Aku pura-pura menolak. Aku ditidurkannya di atas lantai dangau yang tingi itu. Ditariknya baju kaosku ke atas dan mulai menjilati dan mengisapi tetekku. Mampus kau, bisik hatiku. Aku ingin buktikan, kalau sebenarnya seisi rumahku, tidak ada yang benar, semua akan menyetubuhi diriku.
“Maaasss…” kataku dalam desah seakan aku memprotes. Eh… malah dia makin galak dan ganas. Tangannya mulai meraba memekku yang tidak memakai celana dalam.
“Mas… aku enggak mau Mas. Aku ini adikmu, adik kesayanganmu..” kataku merintih pura-pura, padahal aku sudah benar-benar basah. Dilepasnya celana pendeknya dan aku melihat kontolnya yang hitam besar, panjang berurat dank eras. Di kangkanginya kedua kakiku dan dia berada di antara kakiku. Dia menuntun kontolku ke dalam Memekku. Saat ujungnya sudah menempel di memekku, aku protes lagi.
“Mas… jangan Mas… nantui ketahuan. Aku dimarahai lagi….” Kataku seperti mau menangis. Dan…

Kontolnya sudah menembus memekku dan ujungnya sudah menelusuri memekku yang terdalam. Mulutnya terus mengisap tetekku dan sebelah tangannya mengelusnya dan sebelah tangannya yang lain menekan di lantas menyimbangkan dirinya.
“Mas… bagaimana ini…?” protesku. Dia malah beringas dan semakin menggila. Aku meremas punggungnya seakan protes, padahal aku ingin memeluknya. Dia pun terus menutupu mulutku dengan bibirnya dan mengisapi bibirku. Kocokannya pada memekku benar-benar semakin cepat dan aku tak mau kehilangan momen itu. Aku tak mau dia puas sendiri. Aku megejarnya dengan berpura-opura protes, aku menggoyang-goyang pantatku, sampai akhirnya aku melepaskan nimatku, sebelum dia lebih dulu. Setelah beberapa kali aku melepas nikmatku, aku seperti diam kayak orang tak bertnaga. Memang aku sudah kehabisan tenaga, karena aku menggoyangnya dengan pura-pura protes. Lalu Nasrun pun menembakkan spermanya dalam rahimku beberapa kali semabri memelukku kuat sekali. Nafasnya terengah-engah.

Aku menangis pura-pura, tapi air mataku memelh juga. Kututuip memekku pakai rok ku. Dan diasegera memakai celananya.
“Di… kamu gak boleh bilang siapa-siapa, ya…” katanya membujuk. Aku diam dan membelakanginya seakan marah besar. Dalam hatiku, sudah kau puaskan dirimu, lalu kau minta aku diam. Diam lagi… diam lagi!. Saat dia ke kali kecil mencuci kontolnya, aku duduk. Saat dia datang, aku pura-pura termenung.
“Sudah dik… kita kerja lagi yuk. Supaya orang gak suriga,” katanya dan menaik tanganku dengan lembut. Aku diam saja dan mengikut. Dia mulai lagi membabat dan aku menyerakkan batang padi dengan merasa dalam diam. Aku berusasha tidak jauh darinya, agar ketika aku membungkuk, dia tetap melihat tetekku menggantung dari leher baju kaos ku yang lebah.
“Tetekmu bagus, dik…” katanya seakan berbisik. AKu diam saja. Dalam hatiku, biat kau tahu, siapa aku.
“Udah, kalau panas dan capek, sana ke gubuk, biar nanti Mas yang kerjai sendiri,” katanya. Mampus kau. Kau akan kuperbudak lagi, bisik hatiku. Aku melepaskan batang-batang padi dan pergi ke gubuk. Aku monum dan merebahkan diriku. Dari sela-sela dinding tepas (Bambu yang dianyam) aku melihat dia mulai mendekati gubuk. Kusingkap rokku ke atas, hanya sedikit menutupi memekku saja. Aku pura-pura tidur lelap. Dia menaiki tangga dangau dan langsug mendekatiku.
“Kau tidur?” sapanya lembut. Aku pura-pura terjaga.
“Capek Mas. Mas sih… ngentotnya kuat banget,” kataku seperti sedih. Dia pun mendekat dan langsug mencioum bibirku. Dia meminta aku mengeluarkan lidahku dan kuturuti. Di elus-elusnya memekku dan aku tetap protes. Tapi kali ini dengan paksa dia kangkangkan kedua kakiku dan menjilati memekku yang basah dan belum aku cuci. Pasti dia menjilati spermanya sendiri. Paling banyak spermanya yang keluar, karena aku tadi terkencing . Rakus sekali dia. Akhirnya aku merasa sampai pada nikmatku, aku menjepit kepalanya dengan keduka pahanya dengan gaya protes lalu melepaskan nikmatku.
“Maaass… jangan,” kataku. Kurenggangkan kembali kedua kakiku dan menarik rambutnya sebagai protesku, padahal aku melarang, karena aku sudah merasa sangat geli.
Dia buka kembali pahaku dan dilepaskannya celanaanya dan kembali dia masukkan kontolnya ke dalam memekku. Genjotannya semakin keras saja dan pelukannya semakin erat saja. Aku merasakan kontolnya demikian penuh dalam memekku. Dia pun akhirnya melepaskan spermanya beberapa kali dalam memekku. Dia cium pipiku.

Sejak itu, kami selalu melakukannya. Bahkan aku katakana kepadnya, kalau kami pacaran. Dia setuju, kalau akulah pacarnya. Lagi-lagi hatiku berkata:” Mampus kau!” Kami selalu berdua membuat bedengan dan selalu melakukan persetubuhan. Kalau aku mau mau menolongnya, aku menolongnya, kalau tidak, aku duduk saja di dangau. Kubiarkan dia bekerja sendirian.
Adaq satu lagi janji kami. Jika mau bersetubuh, dia harus memuaskan aku dulu, dengan menjilati memekku, megisapi tetekku, bahka menjilati lubang duburku. Dan itu dia lakukan dengan senang hati.
Sampai suatu hari, aku mengatakan, aku hamil. Dia terkejut sekali. AKu ancam dia, kalau tak mau kulaporkan pada ayah dan ibu serta semua orang, dia tak boleh menyuruhku apa saja dan wajib membelaku. Dia setuju.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar