Minggu, 21 Agustus 2011

Anak Kandungku


Bu Supiyah sangat heran melihat putra tunggalnya, Amir yang setiap malam minggu tak pernah keluar rumah. Justru selalu saja bermanja dengan dirinya. Padahal usianya sudah 24 tahun dan sudah diwisuda jadi sarjana teknis mesin di sebuah institut besar. Amir anak yang cerdas.
"Kamu kenapa tak keluar malam mingguan seperti teman-temanmu, Mir," tanya Supiyah suatu malam. Amir
hanya tersenyum.
"Sana kunjungi pacaramu, masak di rumah terus," kata Supiyah lagi.
"Aku gak punya pacar Mam."
"Kamu ini ganteng dan anak pintar, kok gak punya pacar sih?"
"Gak ada yang cocok."
"Kamu mau punya pacar, perempua yang seperti apa sih?"
"Seperti Mami. Cantik dan penuh kasih sayang," kata Amir.
Bu Supiyah yang tersenyum saja. Begitu senangnya dia dipouja-puji oleh anak semata wayangnya itu. Memang sejak kematian suami Supiyah, dia menumpahkan kasih sayangnya kepda putra tunggalnya itu. Dia jalankan perusahaan peninggalan suaminya, justru semakin pesat kemajuannya.

Lama kelamaan, Supiyah heran dan semakin heran saja. Apa mungkin Amir bukan seorng laki-laki yang normal. Supiyah kasihan juga jadinya, jika memikirkan itu. Setiap malam, Amir, selalu merebahkan kepalanya di atas paha ibunya. Bu Supiah pun mengelus-elus kepala Amir dengan penuh kasih sayang dan memanjakan. Mereka sembari menonton TV di ruang tamu.
"Mana mungkin, ada perempuan yang persis Mami, sayang. Cari perempuan yang kamu suka," kata Supiyah.
"Aku hanya mau perempuan yang seperti Mami," katanya.
"Apakah..."
"Ada apa, Mi?"
"Maaf, jangan marah. Apakah kamu tidak normal, sebagai laki-laki?" tanya Supiyah. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Supiyah menyesal. Dia takut, kalau putra tungalnya itu jadi marah atau tersinggung.
"Mami, boleh buktikan, apakah aku normal atau tidak," kata Amir.
"Ya buktikan dong. Cari perempuan untuk pacarmu," kata Supiyah.
"Boleh aku berterus terang Mi? Tapi janji tidak marah," kata Amir.
"Mana mungkin Mami marah pda anak Mami. Berterus teranglah," kata Supiyah pula.
"Tapi janji, jangan marah. Jangan sampai Aku berterus terang, Mami tidak sayang lagi padaku. Aku akan pigi, dari rumah dan tidak akan kembali lagi, karena malu. Janji ya Mi?" kata Amir antara terdengar tidak. Suaranya sangat perlahan.
"Berters teranglah. Mami janji tidak akan marah," kata Supiyah.
"Aku mencintai Mami. Aku mau Mami jadi isteriku," kata Amir berterus terang, walau suaranya perlahan dan tersendat.

Bagaikan tersambar petir, Supiyah seperti tak percaya mendengarkan kata-kata anaknya itu. Dia diam sejenak menenangkan perasaannya dan dadanya yang menggemuruh. Ingin dia segera menolak Anaknya dari pangkuannya dan mengatakan tidak. ANcaman Amir akan pergi dari rumah untuk selamanya, membuatnya tak berani menolak kepala Amir dari pangkuannya.
"Mami marah?" tanya Amir dengan suara yang parau dan ragu. Amir sendiri dadanya mengemuruh, takut kalau Maminya marah.
"Apa mungkin kita menikah, sayang. Aku kan Mami mu sayang," kata Supiyah ragu.
"Kita tak perlu menikah mam. Aku hanya ingin menjadi suami Mami dan mami isteriku. Kita suami isteri. Ini rahasia kita berdua," kata Amir semakin mantap. Menetes airmata Supiyah di pipinya. Tetes airmata itu menetes ke wajah Amir.
"Kenapa Mami menangis? Mami marah dan tak suka dengan kata-kataku?" tanya Amir sedikit meningi. Supiyah ketakutan dan menghela nafasnya dengan kuat.
"Mami tidak marah sayang. Tidak marah. Tidak," kata Supiyah.
"Kalau begitu, Mami setuju menjadi isteriku?" kata Amir penuh percaya diri jadinya. Supiyah diam tak mampu menjawa. Dia harus menjawab apa dengan menjaga seluruh perasaan anak tunggalnya itu.
"Kata orang-orang tua, kalau diam, itu pertanda setuju. Jika gadis dilamar tak menjawab, artinya setuju," kata Amir. Hampir saja dada supiyah meledak mendengar kata-kata itu. Apakah itu sebuah lamaran dari anak kandungnya sendiri? Supiyah pun diam seribu basa.
"Terima kasih, Mam. Berarti Mami setuju atas lamaranku. Sejak sekarang, Mami adalah isteriku. Aku akan memanggilmu dengan nama mesra. Sufi," kata Amir. Mendengar itu, airmata Supiyah semakain menderas. Dia tak tau mau berkata apa. Amir pun duduk dan menghapus airmata Supiyah dengan kedua ibujarinya.
"Jangan menangis sayang. Terima kasih atas kesediaanmu menjadi isteriku," kata Amir penuh mesra. Dipeluknya Supiyah yang sudah dia anggap sebagai isterinya. Dikecupnya bibir Supiyah dengan mesra.

Malam itu juga Amir pindah kamar dari kamarnya ke kamar Supiyah. Supiyah tak tau mau berbuat apa. Mereka tidur di atas tempat tidur yang sama. Sebelum terbaring, Amir, membuka pakaian Supiyah dan mengantinya dengan baju tidur biru yang sangat tipis dan halus. Ingin rasanya Supiyah berontak. Tapi dalam hati kecilnya dia ingin juga membuktikan, apakah anakntya Amir memang seorang perjaka tulen atau tidak. Supiyah ditelanjangi dan dipakaiakan pakaian tidur, tanpa bra dan tanpa celana dalam. Amir mengenakan kimono yang tipis jua tanpa pakaian dalam. Melihat penis anaknya itu, hatinya bergetar juga.

Mereka tidur berpelukan. Amir menciumi bibir Supiyah. Mempermainkan lidahnya dalam ronga mulut Supiyah. Perlahan dia meraba dengan lembut tubuh ibunya yang berusia 47 tahun itu. Perlahan dia preteli pakaian ibunya, sampai telanjang bulan. Ketika Supiyah mau melarangnya dengan mesra Amir mengatakan:" Tenang saja sayang. Semuanya akan menjadi indah dan nikmat. Aku mencintaimu dengan tulus Sufi... aku mencintaimu, saang" Berdesir hati Supiyah mendengar rayua anaknya.

Persis 20 tahun dia tak pernah merasakan elusan dan rabaan dari seorang laki-laki setelah kematian suaminya. Kini rabaan dan elusan iotu datang dari anak kandungnya sendiri. Haruskah...
Yah... Supiyah tak mampu menahan gairahnya. Tanpa sadar dia membalas ciuman anak tunggalnya itu. Dia mengelus-elus kepala Amir, saat Amir menjilati pentilteteknya, saat Amir menjilati ketiaknya, menjilati perutnya dan menjilati lubang memeknya dan mempermainkan klitorisnya. Supiyah sudah tak mampu berbuat apa-apa lagi, selain menikmatinya dan memberikan respons pada Amir. Rasa malu seketika hiloang. Supiyah sudah mendesah-desah dijilati oleh anaknya sendiri.
"Sayang... Mamai sudah tak tahan. Ayo dimasuki..." kata Supiyah memohon.
"Panggil aku Papi, sayang. Panggil aku Papi Sufi..." kata Amir.
"Ya.. Papi... ayo dong, Sufi sudah tak tahan," kata Supiyah menurut, seperti kerbau ditusk hidungnya.

Amir menaiki tubuh Supiyah dan mengangkangkan kedua kaki Supiyah. Perlahan ditusuknya penisnya ke lubang Supiyah. Perlahan dan perlahan. Memek yang sudah 20 tahun tak pernah dimasuki itu, merasakan sensasi yang sangat luar biasa. Terasa memeknya penuh dengan masuknya penis anaknya itu. Dia mengoyangnya dari bawah dan emminta Amir semakin cepat menusuknya. Mereka berpelukan erat dan saling memagut bibir. Sepuluh kenit kemudian, Amir melepaskan spermanya di dalam rahim Supiyah, ibunya. Berkelai-kali dan mereka berpelukan. Amir menciumi pipi Supiyah dengan lembut, sebaliknya Supiyah juga membalasnya dengan lembut.
"Terima kasih, papi," kata Supiyah.
"Aku juag berterima kasih Sufi. AKu sangat mencintaimu, Sufi," kata Amir.
Mereka terus melakukannya dengan kasih sayang dan penuh cinta. Sampai akhirnya pada bulan ke empat, Supiyah hamil. Dia sangat takut dan menyesal. Hal itu dilaporklannya pda Amir, agar digugurkan. Amir marah besar. Dia tak mau anaknya digugurkan. Akhirnya mereka mengambil kesimpula, anak itu harus lahir. Pada udia ke lima bulan lebih, Amir diserahi tugas memimpin perusahaan. Supiyah harus ke Singapura selama beberapa bulan. Sampai dia melahirkan anak laki-laki yang ganteng. Setelah anak itu berusia 2 bulan, Supiyah mengirimkan berita kepada teman-temannya, bahwa dia mengadopsi anak dari rumah sakit di Singapura. Dia ingin kembali ke Indonesia dan merayakan anak yang dia adopsi. Amir pun tersenyum, karean ibunya ternyata orang pintar juga.

Di Singapura, SUpiyah operasi peranakan agar tak hamil lagi. Pesta perayaan anak yang katanya anak adopsi itu pun berlangsung meriah dan singkat. Setelah para tamu pulang, AMir membisikkan sesuatru kepada Supiyah.
"Aku ingin menyetubuhimu Sufi. Malam ini," katanya.
"Aku sudah siap Papi sayang. Kita letakkan dulu anak kita ke dalam bos-nya, Kata Supiyah setelah menyusui anak mereka dengan ASI.
Amir dan Supiyah melakukan hubungan suami Isteri. Sebab ketika Amir menjemput Sufi ke Singapura, mereka melakukan pernikahan catatan Sipil di negeri jiran itu.
Amir sangat mencintai Supiyah, akhirnya Supiyah juga sangat mencintai Amir. Mereka bertekad untuk pindah dari kota itu, ke kota ibukota yang lebih bebas.

1 komentar: