Selasa, 23 Agustus 2011

Diana Kakak-ku (2)

Malam itu, kami makan bukan di meja makan. Tapi di teras belakang rumah. Teras sudah ditata dengan baik oleh Diana. Sop Tom Yam masakannya membuat selera makanku menjadi enak. Kak Diana menambahinasiku dan kami makan sembari bercerita banyak hal.
"Kamu juga harus nambah dong Dai.." kataku. Dia tersenyum.

"So pasti..."
"Senyummu, membuat aku semakin mencintaimu saja. Kamu wanita tercantik di dunia," rayuku. Lagi-lagi Diana tersenyum.
Usai makan, kami masih ngobrol. Besok pagi toh pembantu akan datang pagi sekali dan akan membersihkan semua piring dan dapur dengan rapi. Cerita kami pun sampai ke ranjang. Aku mengetakan, kalau aku sebenarnya menginginkan anak darinya. Dia terkejut. Suatu hal yang tak mungkin dan tak boleh terjadi.
"Kita pacaran aja seumur hidup," katanya.
"Bagaimana aku bisa punya anak, kalau pacaran tanpa...."
"Nanti kamu akan menikah dengan perempuan lain. Tapi kita terus pacaran. Toh orang gak akan ceruiga, kita pacaran," katanya manja.
Diskusi panjang itu akhirnya memutuskan, kalau aku hanya kawin formalitas saja untuk mendapatkan anak satu atau dua orang. Namun kami akan tetap pacaran. Jika akhirnya Kak Diana juga akanmenikah dengan laki-laki lain, juga hanya formalitas saja. Kami pun tersenyum dan menguatkan janji kami.
Nyamuk mulai usil. Sesekali dia mulai menggitku dan dan Kak Diana. Akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke rumah. Diskusi kecila terjadi lagi. Akhirnya kami putuskan, kalau kami tidur sekamar, di kamarku di lantai bawah. Jika ada sesuatu, ada tamu atau apa saja,. Kak Diana akan segera bangu dan lari ke lantai atas di kamar tidurnya. Kami pun tertawa atas keputusan kami.
Di kamar, lampu sengaja kami buat remang, berwarna biru kesukaanku. Beberapa bulan lalu, aku sendiri yang mengganti bola lampu kecil itu dari kuning menjadi biru yag sahdu. Kubuka pakaianku tinggal celana dalam saja. Kak Diana tersenyum melihat celana dalam putihku sedikit mnggelembung.
Aku naik ke atas tempat tidur dan tidur di sisinya. Kupeluk tubuhnya dan kucium bibirnya.
"Kamu buka baju aja Dai..." bisikku. Dia tersenyum dan membuka dasternya. Dan.... lebih gila lagi. Dia tak memakai apa-apa di balik dasternya itu. Tubuh mungil, putih mulus itu bugil di hadapanku. Kami pu bersembuyi berdua di balik seilmut menutup dinginnya AC di kamar itu. Walau dinginnya sangat rendah, tapi lebih nyaman berselimut.
"Gak adil, Yok>"
"Kenapa?"
"Aku bugil, tapi kamu masih makai kolor," bisiknya manja. Cepat kulepas kolorku dan aku juga sudah bugil. Kami berpelukan dan bersiuman serta sembari sama-sama mengelus tubuh.
Kontoljku benar-benar mengeras dan kejang. Bulu-bulu halus dan jarang menyentuh di ujung kontolku dari memek Diana.
"Kamu mau gak, menjiloati sekujur tubuhku, Yok?" Tak perlu kujawab dengan kata-kata. Kusibak selimut dan lidahku mulai menjilati tengkuknya, lehernya, telinganya, kemudian tetekya yang ranum dan mengkal. Perutnya, pahanya, sampai kepad jari-jari kakinya. Aku juga menjilati memeknya, bahkan kupermainkan ujung lidahku pada duburnya. Diana menggelinjang dan mendesah-desah.
"Aku tak pernah dijilati seperti ini seumur hidupku. Apalagi duburku, Yok...."
Aku tak menjawab, terus saja kujilati tubuhnya dengan lembut. Rambutku di remasnya denga kuat dan desahnya berganti dengan rintihan halus, saat lidahku berada di dalam memeknya dan aku mengecup-ngecup itilnya. Kuat dijepitnya kepalaku dan aku sampai sudah bvernafas. Rintihannya membuatku semakin bersemangat.
"Yok... cucuk memekku... aku udah gak tahan, katanya. CEpat kulepas jilatanku da kukangkangkan kedua kakinya. Kedua kakinya sudah berada di bahuku dan aku menusukkan kontolku ke dalam lubang memeknya. Ktekan perlahan, di lubang yang basah dan licin itu.
"Duh....." hanya itu yang keluar dari mulut Diana kakakku, kekasihku itu.
Kami melepaskan kenikmatan kami dan kami pun terkulai lemas. Besok paginya kami terbangunnoleh suara adzan yang mendayu-dayu. Kami bangun dan mandi bersama. Siap-siap aku menghidupkan mesin mobil Kak Diana dan kami harus pergi berdua . Setelh aku mengantarkannya ke kantornya, aku pergi ke kantor yang menerima lamaran pekerjaanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar