Minggu, 21 Agustus 2011

ANakku, Kekasihku (2)


Jika ada tamu, Anakku Jhon tidur di kamar tidurnya sendiri. Jika tidak, sudh pasti, sejak bepergian ke Danau Toba itu, kami tidur bersama.
Jika ada orang mengatakan, perbuatan ini adalah perbuatan terkutuk, silahkan saja. Tapi sejujurnya, aku mengatakan, aku sangat menyayangi Jhon anakku. Mungkin sebaliknya dia juga demikian.

Ketika aku menikah dengan suamiku, tak seorang pun keluargaku menyetujuinya. Suamiku memang bukan keturunan darah biru. Sedang aku sendiri dari keturunan darah biru. Kami bekerja keras untuk keberhasilan kami dan akhirnya memang kami mampu membangun keluarga kami. Perusahaan yang berasal dri dagang kecil-kecilan, mampu kami bangu dengan kerja keras kami. Setelah suamiku meninggal pun, pihak keluargaku tak juga mau menerimaku. Sama halnya dengan keluarga suamiku, juga pada mulanya tak menyetujuinya. Menurut mereka keturunan darah biru hanya bisa bersolek dan terlebih setelah perkawinan kami, kami ngontrak sebuah rumah kecil saja. Begitu suamiku meningal dunia, justru menurut mereka aku penyebabnya, karean membiarkan suamiku pulang selalu laraut malam, membuatnya menderita dan mobilnya tabrakan.
Terserah apa yang mereka mau. Sejak itu, kami hidup hanya berdua dengan anakku Jhon. Dan dia sendiri sudah mampu menerima kehidupan itu, sejak kecil, sampai dia SMA. Dua bulan lagi, dia akan menjadi mahasiswa. sesuai dengan keinginannya dia ingin kuliah di kedokteran.

Sehabis mandi, kami malam malam. Aku mengenakan baju tidur biru muda yang transparan. Kulitku yang putih membayang-bayang bagaikan siluet. AKu tahu, anakku menatapku penuh kagum.
"Mama, makin cantik aja..." ucapnya. Aku tersenyum.
"Mulai sekarang, Mama akan tetap cantik di hadapanmu," kataku manja. Seusai mengkntrol empatb uah pompa bensin yang kumiliki dan sebuah toko serta dua buah saloon kecantikan, membuatku selalu terlalu letih. Terkdang aku lupa menata diriku. Sejak kejadian di danau itu, aku semakin bergairah untuk menata diriku. Aku tak mau anakku melihatku tak cantik. Terlanjur dia mengagumiku. terserah sebagai ibu, atau sebagai kekasih atau sebagai apa saja.
Kami makan dengan lahap. Masakan pembantu kami memang selalu pas dengan selera kami.

Anakku selalu belajar di meja belajarnya di kamar tidurnya. Tapi kali ini dia sudah belajar di meja kerjaku di kamar tidurku. Aku selalu menemaninya bila belajaer, karena aku tak ingin anakku sendiri. Aku selalu sabar menemaninya. Malam ini aku seperti tak sabar, ingin memeluknya. Tapi tak mungkin, karena pelajarannya tak boleh terggangu. Dua jam lebih aku setia menemaninya.
"Haaaahhhh..." Jhon menguap dan mengakat kedua angannya untuk ngulet. Jhon menutup bukunya, pertanda dia telah selsai belajar.
"Letih sayang..." kataku, sembari bangkit dari kursikecil di kamarku dan memijati babhu dan tengkuknya. Jhon memelukku dan menyandarkan kepalanya di perutku. Aku mengelus-elus kepalanya dengan kasih sayang. Perlahan anakku bangkit dan memelukku.
"Terima kasih Mam, telah menemaniku," ujarnya. AKu tersenyum dan membelai rambutnya. Dikecupnya bibirku dengan lembut. Aku mengelus-elus tengkuknya.
"Mama cantik sekali..." bisiknya dan mengecup pipiku. Kembali aku tersenyum menyenangkan hatinya. Anakku, melepas pakaia tidur biru mudaku. Pakaianku lepas dan aku sudah bugil, karean sejak tadi aku memang tidak memakai pakaian dalam.
"Ma..." bisiknya sembali membelai-belai buah dadaku.
"Kenapa sayang... Kamu mau..."
"Ya Mam. AKu mau netek nih," katanya.
"Neteklah sesukamu." Anakku melepas pakaiannya dan merangkulku setelah dia bugil. Dia membawaku ke tempat tidur. Kami berbaring bersama. Di bawah selimut, dia mengisap-isap pentil tetekku denga lebut bergantian. Aku benar-merasa senang dan bahagia sekali. Kubelai-belai rambutnya, sementara vaginaku mulai berdenyut-denyut.
"Sayang..."
"Ya Mam..."
"Mama mau..." Aku meraba penisnya yang sudah mengeras.
"Sudah tiga mala kita tidak..."
"Ya. Mam... aku juga mau.." katanya. Vaginaku sudah basah dan aromanya sudah khas. Anakku menaiki tubuhku. Dia menciumi bibirku dan lidah kami sudah saling berangkulan terasa.

Di bawah selimut, kami bergumul. Kami saling berpelukan, sementara tangan kami tak pernah diam, saling meraba memberikan kenikmatan.
"Mama tak boleh menikah dengan siapa pun," katanya. Aku terkejut mendengar ucapannya. Mungkinkah anakku mulai cemburu?
"Mama tak akan pernah menikah dengan siapapun lagi. Kan ada kamu. Anak mama yang mampu memb3erikan segalanya pada mama," padaku. Anakku tersenyum.
"Janji ya ma?" katanya.
"OK. Mama janji sayang," bisikku mengecup bibirnya dengan lembut. Aku begitu semakimenyanginya. Kuleuspungungnya dan kubelai kepalanya. Anakku terus memompaku perlahan lahan dengan ritme yang teratur. Aku merasakan nikmat sekali.

Aku harus mengakui, kalau terkadang, aku hampir tak mampu mengimbanginya. Usiaku yang semakin menua, membuat nafasku suka tersengal-sengal. Untuk itulahaku harus fitness teratur dan hasilnya memang menggairahkan. Anakku semakin menggebu-gebu da dia sudah mampu mengatur permainannya, hingga aku suka kelabakan.

"Mama... ayo Mam. AKu dah hampir sampe ni..." katanya. AKu merangkulnya dan menggoyangkan pantatkuserta melingkarkan kdau kakiku pada pinggangnya. Desdah nafas kami membuat kami semakin bergairah. Akhirnya kami sampai ke puncak yang kami tunggu. Kami membersihkan diri ke toilet dalam kamar. Lalutertidur dengan pulas.

Kusiapkan sarapan dan kulayani anakku, sebagaimana aku penah melatyani ayahnya dulu. Kami melaksanakan tugas kami masing-masing. Aku mengontrol perusahaan dan anakku ke sekolah mempersiapkan dirikuuntuk ujuan Nasional.
Pukul 13.00 aku mendapat SMS.
"Honey... aku dan keluar sekolah ni. Lagi apa sayang..."
Aku tersenyunm membaca SMS itu. Begitu mesra dan begitu penuh kasih. Sekian lamanya sapaan honey... tak terdengar di telingaku. Aku jadi horny.
"Aku sdang di saloon. Mau makan siang di resto honey..." balasku. Aku benar-benar horny.
"OK Honey... Tapi aku sudah horny. Aku ingin..."
Aku mengerti apa yang dimaksudnya. AKu semakin horny. Vaginaku mulai berdenyut-denyut. Padahalbaru tadi malam kami saling memuaskan diri.
"Jujur honey... Mama juga sedang horny. Siap makan kita langsung pulang dan..."
"OK... AKu meluncur ke kantor..."
Benar setengah jam kemudian anakku sudah muncul di kantorku. Dengan manjanya dia menyapanya dan mencium pipiku di hadapan para stafku. AKu senang sekali.
"Sudah pemuda masih manja ya bu. Akrab betul" kata salah seorang stafku. Mereka tau, anakku adalah anak tunggal. Aku tersenyum dan bahagia. Kugamit tangannya dan aku bersandar di bahunya keluar dari kantor.
"teruskan pekerjaannya," kataku pada para stafku. Mereka mengagguk hormat dan tersenyum bangga melihat anakku tak malu-malu menggandengku seperti manjanya seorang anak kepad ibunya di mata mereka.

Usai makan, rasanya aku ingin mempercepat lari mobil. Kalau tak macet, mungkinaku akan menancap gas. Tapi tak mungkin, karena jalanan macet.
Setiba di rumah, kami sangat senang, seali. Pemantu kami sedang di dapaur dan tak melihat kedatangan kami. Pembantu mengira aku pulang sendirian. Kami langsungke kamar dan kami menyelesaikan keinginan kami yang menggebu-gebu. Sepasang kekasih yang seperti sudah berpisah lama.
Ya... kami sedang bertelanjang dan saling memberikan kenikmatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar