Senin, 22 Agustus 2011

Sama-sama Mabuk (1)

Sejak suamiku kawin lagi, rasanya aku demikian marah padanya, karena telah menghianatiku. Ajakan teman-temanku unutkk clubing, aku ikuti. Lama-lama aku bosan juga. AKhirnya aku sudah ketagihan minum-minuman keras. Shalat sudah aku tingalkan dan mulai asyik dengan daganganku membawa berlian dari rumah ke rumah dan menghasilkan banyak uang.
Saat aku anakku Yanto nmemasuki rumah, aku sebenarnya sudah setengah mabuk. Kepalaku sudah berat. Aku masih sadar dan mengetahui semuanya. Kulihat anakku berjalan sempoyongan dan menatapku dengan tajam.
"Baru pulang sayang? Kamu minum minuman keras ya?" sapaku.
"Ya. Kalau mama juga minum minuman keras, kenapa aku tak boleh," katanya sembari mengangkat gelasku di atas meja yang berisi sedikit Tequila dan meneguknya. Aku kasihan kepadanya. AKu sadar, kalau ini adalah kesalahanku. Anak bungsuku dan satu-satunya laki-laki berusia 19 tahun ini akan hancur, jika aku biarkan. Dua putriku sudah menikah dan ikut suaminya. Kupeluk Yanto dan mencium pipinya. Yanto balas memelukku dan menangkap tengkukku serta mengarahkan bibirnya ke bibirku. Dia mengecup bibirku dengan lembut dan mengelus rambutku.
"Yaaaannnn...."
"Ya sayaaaang..."
Aku agak risih dipanggil sayang, seperti menyapa kekasihnya sendiri. Aku sadar, mungkin Yanto menganggap aku kekasihnya, karean dia sedang mabuk. Yano yang baru saja duduk di semester I pada sebuah universitas ternama di negeri ini, terus mempemainkan lidahnya dalam mulutku.
"Aku sangat mencintaimu..." bisiknya. Aku diam saja. Tanganya mulai meremas-remas buah dadaku dan dengan paksa dia lepaskan dasterku, bra-ku, hingga aku tinggal memakau celana dalamku. Dengan cepat pula dia melepas semua pakaiannya hingga 100% bugil. Lampu di ruang tengah, demikian terang benderang, terlebihj semua pintu sudah ditutup dan jendela juga sudah terkunci erat. Aku tetap menganggapnya mabuk, hingga mungkin saja Yanto tidak menyadari, kalau aku adalah ibu kandungnya. Tapi rabaan dan elusan tangannya pada tubuhku, membuat libidoku bangkit juga. Apa yang harus kulakukan? Menolaknya yang sedang mabuk? Atau....
"Kamu tau, aku ini siapa Yaaannn..." tanyaku halus dan selembut mungkin, untuk menyadarkannya.
"Ya. Aku tahu."
"Siapa sayang?"
"Kamu kan Silvia, kekasihku..."
Berdegup jantungku, dia menyebut namaku dan menyebutkan pula aku adalah kekasihnya. Tapi mungkin saja ada perempuan senama denganku, Silvia yang adalah kekasih anakku Yanto.
"Silvia kekasihmu? Silvina yang mana sayang...?" sapaku lembut dan bibirnya sudah menyedot-nyedot buah dadaku.
"Silvia, mantan isterinya Ridwan," jawabnya. Ridwan adalah suamiku yang aku gugat cerai ke mahkamah syariah, ayah kandung Yanto anakku.
"Ya. Aku adalah mama mu sayang," kataku lebih lembuit lagi. Pertama kelembutan suaraku agar dia tidak tersinggung, kemudian karean libidoku juga sudah meninggi.
"Mulai sekarang, kamu bukan mamaku lagi, Tapi kekasihku, calon isteriku," katanya. Dia terus menceracau sembari terus merabai tubuhku dan menjilatinya. Aku senmakin tak mampu menahankan hasrat seksualku, tapi haruskah aku melakukannya derngan anak kandungku sendiri?
"Sayang, kamu sudah mabuk. KIta tak boleh..."
"MUlai sekarang, aku bebas melakukan apapun padamu, Silvia. MUlai sekarang kamu adalah isteriku. Aku sangat mencintaimu. Aku sudah lama menunggu perceraianmu," jawabnya semakin tegas. Lidahnya sudah menjilati perutku dan tangannya sudah menurunkan celan dalamku. Vaginaku susah basah. Perlahan Yanto menidurkanku di atas karvet di ruang tamu itu. Cepat dia menjilati vaginaku, dimana suamiku sendiri tak pernah melakukannya. Aku tak tau harus berbuat apa, karena aku merasakan kenikmatan yang luar biasa. Aku hanya bisa mendesih dan langsung kutangkap penis Yanto. Saat aku menangkapnya aku sangat terkejut. Aku merasakan betapa kerasnya penis itu. Besar dan jauh lebih besar dan lebih [panjang dari milik ayah kandungnya. Kutuntun penis itu memasuki liangku. Vaginaku yang basah, langsung menenggelamkan penisnya yang besar dan panjang itu.
Yanto berjongkok di antar kedua pahaku. Tangannya meraih Tequilla dari meja dan meneguknya seidkit lagi. Kemudian diteguknya sedikit lagi, lalu dari mulutnya dia salurkan Tequilla ke mulutku. Kami berciuman dan lidah kami saling mengait, sementara Yanto terus memompa vaginaku. Maknj lama makin cepat dan liang vaginaku terasa penuh.
Suara cucuk-tarik penis anakku dalam vaginaku mengeluarkan suara yang mengasyikkan. Akhirnya kedua kakiku kujepitkan ke pinggang anakku dan kedua tanganku memeluk erat tubuhnya sembari merintih-rintih. Aku merintih karena merasa nikmat, bukan karean alkohol. Rasa malu dan aku sudah melupakan, laki-laki yang di atas tubuhku adalah anak kandungku sendiri.
"Huuuuuuhhh..." rintihku saat sesuatu terasa keluar dari tubuhku yang amat dalam. Mungkinini yang dinamaka orgasme. Kalau benar ini adalah kenikmatan orgasme, maka inilah pengalaman pertamaku merasasakan oprgasme seumur hiudpku, dengan anak kandungku sendiri. Selam 26 tahun aku menikah, aku tak pernah merasakan orgasme dan tak pernah merasakan kenimmatan seks. Saat aku mulai mau menikmati seks, tiba-tiba suamiku sudah melepaskan spernmanya dalam vaginaku. Selalu saja demikian, dan aku pun hamil, hamil dan hamil. Kemudian melahirkan ke tiga anak-anakku.
Aku lemas. Yanto masih juga terus memompa. Aku diam saja, karena nafasku sudah tersengal-sengal. Usia tak mampu kulawan. Aku sudah 47 tahun.
"Mama sudah tua sayang... maafkan mama," biskku.
"Kamu masih cantik dan hebat, Silvia," jawabnya.
"Betulkan aku masih cantik sayang?"
"Betul. Kamu masih cantik dan tubuhmu masih sintal. Aku mencintaimu," bisiknya sembari terus memompa tubuhku.
Tak lama nafasku mulai normal dan aku memberikan perlawanan pada anakku, agar dai tidak kecewa. Rasanya aku berdosa sekali, jika mengecewakan anakku yang sudah memberikan pengalaman terindah dalam hidupku, dimana selama ini tak pernah kurasakan.
Yanto terus memeompa tubuhku dari atas. Suara semakin berisik keluar dari vaginaku yang sangat basah. Aku mengangkat kedua kakiku ke atas dan memeluknya dengan sekuat tenagaku. Pompaan dari atas, membuatku semakin menikmati lagi keindahan itu untuk kedua kalinya. Anakku memompa semakin kencang dan aku tau ciri-cirinya laki-laki akan melepaskan spwermanya.
"Tunggu Mama sayaaaang..."
"Aku sudah mau keluar Silvia..."
Aku pun mengimbanginya. JIka dia sudah keluar, maka kontol itu akan terkulai dan aku tak akann mendapatkan kenikmatan untuk kedua kalinya. KUarahkan penisnya pada sisi-sisi yang membuatku nikmat sekali dan akhirnya aku menjerit kecil serta memeluknya. Saat itu Yanto menghunjamkan penisnya kuat sedalam mungkin ke liang vaginaku. Aku merasakan beberapa kali semprotan sperma hangat dalam liangku, membuat aku semakin histeris. Aku tak tau, apakah ada orang di luar mendengarkan jeritan kenikmatanku. Semoga tidak.
Nafasku dan nafas Yanto memburu. Yanto terkulai di atas tubuhku. Penisnya mengecil dan terlepas dari liangku.
Tak lama kami sudah normal dan saling menatap, dengan senyum manis. Yanto memakaikan daster ke tubuhku, lalu dia memakai pakaiannya dan membimbingku ke meja makan untuk makan bersama.
"Sil... isteriku. Sejak malam ini, kamu harus memanggilku suamimu," katanya. Aku haru tapi aku harus menjawab apa, karean hal itu tidak mungkin.
"Tapi...":
"Tak ada tapi tapi lagi. Kamu adalah isteriku dan aku adalah suamimu," suaranya setengah membentak. Aku diam. Dirangkulnya tubuhku dan dia mencium pipiku dengan lembut dan penuh kasih sayang. Aku meneneteskan air mata. Aku tak mengerti tetasan airmataku, apakah itu tetas air mata penyesalan atau air mata haru. Jelasnya, suamiku Ridwan, Papanya Yanto, tidak pernah memperlakukan aku semesra yang dilakukan oleh Yanto. Aku membalas pelukannya dan menyandarkan kepalaku di dadanya.
"Kamu isteriku ya..." bisiknya ke telkingaku. Aku menganggukkan kepalu dengan lemah dan memeluknya kuat.
Yanto punmengecup ubun-ubunku dengan penuh kasih sayang. Kami makan makan bersama. Setelah menonton TV sejenak, Yanto membimbingku ke kamar tidurku. Yanto megunci kamar dan kami tiduran berdampingan.
"Kamu tidak tidur di kamarmu?" t anyaku.
"Bukankah kita sudah suami isteri?" jawabnya

4 komentar: