Minggu, 21 Agustus 2011

Ibuku Janda (1)


Kisah ini terjadi sejak lima tahun lalu, saat aku berusia 14 tahun dan ibuku berusia 34 tahun. Aku sendiri tidak mengenal siapa ibuku. Tapi kami hanya berdua. Kami juga tinggal di pondok kecil dekat persawahan kami yang kata ibu ladang dan sawah itu diberikan oleh keluarga ibuku. Saat aku mengajak ibuku ke rumah orangtuanya, nenek dan kakekku, ibuku selalu menolak. Bahkan ibu sering menangis kalau aku bertanya soal
ayahku dan orangtua ibuku, atau orangtua ayahku. Setelah aku SMA baru aku mengetahui, kalau ibuku, hamil karena kecelakaan. Tak seorang yang mau mengakui kehamilan ibuku, oleh siapapun. Akhirnya ibuku, dipaksa tinggal di perladangan dan sawah milik orangtuanya, karena orangtuanya merasa malu, ibuku hamil tanpa suami.
Aku mengetahui ini, dari seseorang yang mau bercerita tentang siapa aku sebenarnya, setelah berjanji aku tidak bercerita kepada siapapun. Akhirnya aku sangat menyayangi ibuku, karean ibulah satu-satunya milikku.
"Sudahlah, Mak. Aku adalah milik Emak dan Emak adalah milikku. Kita hanya berdua saja," kataku pada suatu petang. Ibuku pun diam. Sepertinya dia sudah mulai curiga, aku mengetahui sejarah kehidupan kami. Ibuku menatapku lembut.
"Yah... hanya kita berdua. Pasti kamu sudah tau cerita dari orang lain," katanya. Aku mengangguk. Ibu pun tak bertanya dari siapa aku mengetahuinya dan ibu juga tidakbercerita tentang apa sebenarnya.
Hanya dengan dililit kain batik sebatas dada, ibuku pun memeluk diriku dengan kasih sayang.
"Rajin-rajinlah belajar," katanya. Aku mengangguk. Dalam pelukannya, aku mencium aroma sabun wangi melintas ke rongga hidungku. Aku balas memeluk ibuku dan kepalaku direbahkan ke dadanya, sembari kepalaku dielus-elus dan sesekali ibu mencium pipiku.
"Hanya kita saling memiliki," katanya lembut. Tanpa sengaja kain batik yang hanya disedikit dimasukkan ke lipatan lain, terlepas. Buah dada ibu menempel di bibirku. Terasa lembut sekali pentil buah dada ibuku. Perlahan aku menjilat dan mengisap pentil tetek ibu.
"Kamu menetek?" sapa ibu.
"Iya, Mak. Bolehkan?" Ibuku pun tersenyum dan mengangguk.
"Nanti lagi neteknya, masukkan dulu bebek ke kandangnya. Setelah itu kita boleh malam malam."
"Setelah makan malam aku boleh menetekkan, Mak?" kataku ingin menetek. Aku merasa begitu nikmat tadi. Ibu tersenyum dan mengangguk.
Bebek dan ayah serta empat ekor kambing aku masukkan ke dalam kandang, sementara ibu menyiapkan makan malam kami. Ingin rasanya ayam dan bebek serta kambing itu cepat memasuki kandang agar aku cepat bersama ibu. Masih terbayang, aku menetek pada ibu tadi. Akhirnya semuanya sudah masuk kandang dan aku berlari kecil menaiki tangga gubuk kami yang terbuat dari bambu bulat. Lampu sentir sudah menyala dan makanan sudah siap. Kami pun makan dengan lahapnya. Sepulang sekolah tadi, aku sudah membantu ibu menanami padi. AKu juga sudah menyelesaikan 15 buah PR yang besok di sekolah akan diperiksa oleh guru.
Usai makan, aku menagih janji ibu, akan mengizinkan aku menetek. Ibu tersenyum, sembari mengangkati piring kotor ke petmpatnya untuk besok pagi, kami menyucinya.
Pukul 19.00 sudah gelap. Hanya ada lampu sentir di depan gubuk kami dan kami memang ada 200 meter dari tepian kampung. AKu pun sedih setelah mendengar cerita, sejak usia 40 hari, aku dan ibuku sudah tinggal digubuk itu, karena ibuku tidak diizinkan tingal di kampung bersama orang kampung.
Seperti biasa, ibu cepat masuk kelambu untuk tidur karena lelah dan besok pagi biasanya akan bertanak nasi serta memerah susu kambing untuk minuman pagi setiap pagi, masing-masing satu gelas. Aku pun memasuki kelambu mengikuti ibu, setelah mengecilkan lampu sentir, agar hemat minyak tanah.
AKu mendekati ibu. Ibu sudah melepaskan jepitan kain batiknya dan dua buah teteknya menyembul keluar. Ibu menyodorkan kepadaku sebelah buah dadanya dan aku mulai mengisapnya. Aku terkejut saat ibu mendesis-desis.
"Kenapa, Mak? Apa sakit?" tanyaku. Aku melihat senyum ibu di keremangan malam itu.
"Tidak, Nak. Teruskan saja," bisiknya. Dia sodorkan kembali pentil teteknya ke mulutku. Aku mulai mengisapnya dan ibu mengelus-elus kepalaku. Kembali ibu mendesis-desis dan memelukku. Dicabutnya pentil teteknya dan ibu mengganti dengan pentil yang lain. Aku terus mengisapinya. Sebelah tangankui dibimbingnya untuk mengelus elus teteknya yang barui saja kuhisap. Aku melakukannya. Bulan hanya mengelus, bahkan meremas-remasnya.
"Teruskan, Nak<" bisik ibu mendesis. Desisnya membuat aku ragu, ta[pi kata teruskan, itu membuat aku makin semangat. Aku terus mengisap tetek ibu dan meremasnya. Saat itu ibu meraba burungku. Diselipkannya tangannya memasuki celanaku. Burungku memang sudah mengeras sejak tadi.
Perlahan ibu menurunkan celanaku yang berkaret, sampai aku telanjang bulat. AKu memang biasa tidur tidak makai baju, agar hemat. Bila aku sudah tertidur, biasanya ibu akan menyelimutiku dengan kain panjang atau sarung.
Ibu pun melepaskan kain batik yang menutupi tubuhnya. Aku merasakan ibu juga sudah telanjang bulat. Ibu memelukku dan kami berpelukan. Dalam pelukan itu, ibu membalikkan tubuhnya dari tidur ibu menyamping jadi terlentang dan aku sudah berada di atasnya. Aku merasakan bulu-bulu kemaluan ibu menggesek-gesek di bawah perutku. Kedua tangan ibu mengelus-elus pantatku. Lalu sebelah tangannya memegang kepalaku dan merapatkan mulutku ke mulutnya. Bibir ibu menjilati bibirku dan mengisapnya.
"Burungnya dimasuki ke tempat Emak," katanya. Aku tau tahu masukan kemana. Aku hanya menggesek-gesekkan burungku ke rambut kemaluan ibu. Ibu mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar dan menangkap burungku lalu dicelupkannya ke dalam lubang. Terasa hangat dan aku merasa nikmat. Ibu pum memeluk pinggangku dengan kedua kakinya dan menolak-nolak pantatku dengan tumit kakinya. Burungku terasa keluar masuk pada lubang itu. Aku merasa enak. Kemudian aku yang memaju mundurkan burungku di dalam lubang itu
Ibu mendesis-desis dan terus mengisap-isap bibirku. Dimintanya aku mengeluarkan lidahku. Lisahku diisap-isapnya dengan lembut. Kemudian diulurkannya lidahnya, aku pun memperlakukan lidahnya seperti ibu memperlakukan lidahku tadi. Kami terus berpelukan, sampai akhirnya aku menekan kuat tubuhku memasukkan sedalam-dalamnya burungku ke dalam lubang itu dan ibu pun mendesis, memelukku sekuat-kuatnya. Aku merasakan ada desir cairan kental melumuri burungku.
"Mak.. aku aku mau kencing," bisikku, sembari terus menekan burungku sedalam-dalamnya.
"Kencing saja, Nak," bisik ibu tersendah. Dan aku pun pipis di lubang ibu. Kali ini, air kencingku tidak seperti kencing biasa. Tapi kencingku nikmat sekali, seperti beberapa hari lalu, aku kencing enak dan terasa demikian kental pada celanaku. Saat aku menceritakan kencing kental itu pada ibuku, dia tersenyum saja.
Kami pun berpelukan, sampai kami terbangun baginya. Aku ikut bangun dan membawa piring kotor ke pancuran kecil di samping rumah dan menyucinya, sementara ibu melepas ayam dan bebek, serta memerah susu kambing dua gelas untuk dimasak dan akan kami minum bersama, setiap pagi.
Saat aku mau pergi ke sekolah, ibu memanggilku.
"Kamu tidak boleh bercerita apapun soal tadi malam ya,' kata ibuku lembut dan tersenyum. Aku mengangguk.
"Berjanji?" ibu menegaskan lagi.
"Berjanji,: kataku. AKu pun pergi ke sekolah, sembari membawa 30 butir telur bebek dan 10 butir telur ayam. Nanti sepulah sekolah uangnya aku setor semua pada ibuku.

4 komentar: