Minggu, 21 Agustus 2011

Dendamku (4)

Setelah abangku yang nomor dua dan adik bungsuku, kini akumendapat kesempatan dengan ayahku. Inilah saatnya aku akan melampiaskan dendamku pada ayahku. Aku berjanji dan bersumpah, akan menjadikan mereka semua keluarga ku yang laki-laki akan menjadi budakku. Agar mereka tau, betapa sakit hatiku yang diperkosa, malah aku yang diminta diam dan boleh melaporkan kejadian kepada siapapun juga.


Ayah telah berhasil dengan cita-citanya. Kini ayah telah membeli sebuah kebun di hulu desa, berkisar 25 kilometer dari desa kami. Pelit, ayah tak mau mengupahkan pekerjaan itu kepada orang lain. Dia harus mengerjakan sendiri. Abangku, mulai menyadap karet berdua. Adik laki-lakiku mengangon sapid an ibu berjualan di pasar. Aku mendapat tugas untuk menemani ayah ke lading baru untuk ditebas untuk kebun kopi. Sebuah gubuk sudah berdiri di sana.

Aku diminta untuk menemani ayah selama tiga malam. Setelah sadapan karet selesai dan ibu ada kelonggaran, aku akan digantikan oleh ibu. Aku ikut ayah naik sepeda. Semua orang terkagum-kagum pada ayah yang menjadi orang terkaya di desa kami. Semua anak-anaknya manut padanya. Ayahku juga bangga sekali. Begitu sampai di perladangan baru, kami mulai memasuki gubuk. Aku mendapat tugas untuk menanak nasi dan rebusan sayur serta menjerang air untuk kopi ayah. Aku mulai melancarkan aksiku, seperti kepada abang-abang dan adikku.

Kulepas bra yang kupakai dan celana dalamku. Aku sengaja memakai rok longgarku. Kuhidangkan nasi di teras gubuk di ketinggian dengan angina yang berhembus kencang. Baju kaos tipis yang kupakai membuat pentil tetekku transparan. Kami duduk di lantai tanah dengan berkembang tikar seadanya. Aku sengaja mengambil posisi duduk di depan ayahku. Pahaku yang putih mulus mulai kuperlihatkan. Aku sengaja duduk sembarangan, antara kelihatan bagian memekku dan tidak.

Ayahku makan dengan lahapnya. Aku juga makan dengan lahap. Kusodorkan kopi panas pada ayah selesai dia makan dan aku meneruskan makanku. Angin kencang mengangkat rok ku yang kembang hingga memekku sedikit tersingkap dan cepat kututup. Memek yang belum berbulu itu, membuat ayah sempat meliriknya. Dadaku berdegup kencang. Ayah kulihat diam tanpa bereaksi. Aku meneruskan makanku. Jelas kulihat mataayah, mul;aimelirik-lirik. Aku diam saja seakan tidak tahu.

Seusai aku makan, aku mengambili piring kotor dan akan mencucinya. Aku sengaja jongkok mengangkang. Saat itu aku tahu, memekku jelas terlihat ayah. Aku melihat matanya melirik ke selangkanganku. Aku diam saja, lagi-lagi seakan tidak tahu.
“Sudah nanti saja nyuci piring. Kamu duduk di sini saja dulu,” kata ayah. Hatiku bersorak. Semoga ayah tidak marah. Aku sengaja duduk di sampingnya dan aku pun bermanja. Aku ngelendot pada ayahku. Kurapatkan buah dadaku ke punggungnya. Waktu aku duduk, aku mengangkat kakiku sebelah, hinga rok ku melorot ke pahaku. Pahaku yang mulus putih itu kelihatan jelas. Ayah memeluk bahuku. Aku pun memeluk pinggang ayah dan merapatkan tetekku ke dekat dadanya, seakan aku bermanja.

“Kamu cantik sekali nDuk…” katanya.
“Kalau aku cantik, kenapa ayah marah padaku,” kataku bermanja.
“Soalnya, kenapa kamu mau diperkosa Paklek mu?” kata ayah.
“Namanya diperkosa, ayah. AKu menolak, tapi aku tidak kuat menolak…” kataku bersedih.
Tanpa sengaja, aku menjatuhkan tangan. Kuperlihatkan, kalau aku benar-benar tidak sengaja. Kemaluan ayahku tersentuh tanganku.
“Hi… ini apa? Apa ayahamembawa kayu dalam celana?” kataku seakan lugu. Ayahku tersenyum. Ayah mengatakan itu bukan kayu. Aku pun pura-pura bertanya lugu. Kalau bukan akyu apa, kok keras? Ayah hanya tersenyum.
“Boleh aku melihatnya, ayah?” kataku memberanikan diri. Lagi-lagi ayah tersenyum. Dalam hatiku, aku akan berhasil memperdaya ayahku. Tanpa menunggu jawabannya, aku memagang kontol menegang itu dari luar.
“Hii… kayak ular, yah?” kataku pura-pura lugu.
“Ya… memang ular,” kata ayahku. Aku pura pura melompat ketakutan. Ayah tersenyum. Aku kembali jongkok dan berhadapan dengan ayah. Aku memasukkan tanganku ke dalam celana pendek ayah dan memegang kontol ayahku.
“Boleh aku melihatnya, Yah?” kataku penuh keluguan. Ayah diam. Aku menarik celana ayahku sampai melorot sampai aku melihat kontol ayahku yang tegang.

TIba-tiba saja saya ayah merengkuhku. Ditariknya tubuhku dan dibawanya tubuhku merapat ke tubuhnya. Kedua kakiku mengangkangi kedua kakinya. Aku dipeluknya. Ayah meraba-raba memekku.
“Kenapa ayaha berbuat seperti ini?” tanyaku pura-pura lugu, seakan tidak mengerti. Ayahku tidak menjawab. Dia terus menarik tubuhku semakin merapat ke tubuhnya. Perlahan dia arahkan kontolnyamenempel di memekku. Dia tekan ke atas kontolnya sampai memasuki memekku.
“Yah… sakit…” kataku berpura-puramerintih. Ayah tidak menjawab.
“Tak mau Yah… sakit…” kataku dalam rintih kepura-puraan. Memekku memang belum beasah, hingga sedikit sakit dan kesat. Ayahku terus memaksakan kontiolnya memasuki memekku. Aku meneteskan air mata keperihan memekku yang masih kering dipaksa dimasuki kontolayah yang besar dan panjang.
“Sakit Yah…” rintihku. Ayahku diam saja. Terus dimasukkannya kontolnya ke dalam memekku. Sampai akhirnya semuanya sudah masuk dan rasa perihnya sudah berkurang dan kemudian hilang.

“Yah… kenapa ayah buat aku seperti ini?” tanyaku dalam isak tangis yang kubuat. Lagi-lagi ayah diam. Dia terus memelukku dan mengelus-elus punggungku. Memekku sudah basah. Keluarmasuk kontol ayahku semakin cepat dan akumemeluk ayahku, ayahku jugamemelukku dengan kuat. Aku tahu, sebentarlagi ayah orgasme. Aku tidak mau sia-sia. Aku terus mengarahkan kontolnya menyentuh klentitku saat ayah mengoyangnya. AKu tak mau kehilangan kenikmatanku dan aku cepatkan kenikmatanku harus tercapai. Akhirnya aku mjencapainya juga. Tak lama ayahpun orgasme. Ayah memelukku dengan kuat sembari mendengus-dengus. Lalu ayah mencium pipiku dan berkata:”
“Tak boleh cerita kepada siapapun.” Aku pura-pura menangis. Ayah membujukku.

Aku mencuci piring, kemudian aku memasuki gubuk dan tidur. Aku tak mau membantu ayah dengan alasan aku letih. Saat aku tertidur aku sejenak dan mendengar langkah kaki mendekati gubuk, aku mengintip dari sela-sela mataku yang tertutup sarung. Aku melihat ayah mendekatiku. Membuka rok ku, kemudian menjiolati memekku. Diangkatnya baju kaos oblongku, lalu dijilatinya tetekku, kemudian memekku dan aku menggeliat.
Ayah tak membuang waktu, langsung mengangkangkan kedua pahaku dan menyetubuhi ku. Aku pura-pura terbangun setelah aku basah dan mulai memeluk ayahku. Sejak itu, sampai tiga hari yang dijanjikan, setiap hari kami melakukan persetubuhan dengan ayahku. AKu pun tak malu-malu lagi dan takberpura-pura lagi. Bahkan ada dua hari, kami melakukan persetubuhan sampai dua tiga kali.

Saatayah duduk, aku meminta untuk disetubuhi, sampai aku tau ayah sangatletih sekali. Aku tak memikirkan dia letaih. Yang penting aku nikmat dan dendamku terlampiaskan.
Saat ayah membabat di pucak, aku mendatanginya dan menariknya, lalu melepaskan celananya, kemudian mengelus kontolnya. Ayah yang mau marah, aku pelototi dan aku tak peduli. Begitu kontol ayah tegang. Aku menariknya ke tanah dan merebahkannya, lalau aku tunggani dari atas dan memasukkan kontolnya ke memekku dan mengoyangnya da ri atas sampai aku puas. Aku tak perduli ayahku puas atau tidak

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar