Minggu, 21 Agustus 2011

Diana Kakak-ku (3)

Baru saja aku menyerahkan lamaran pekerjaanku, aku dikejuti oleh suara HP. Kak Diana.
"Bagaimana lamaranmu, Yok?"
"Sudah aku berikan, Kak. Lusa aku wawancara."
"Cepat ke kantorku dong."

"Ada apa?"
"Pokoknya cepat."
Langsung aku menuju mobil setelah keluar dari kantor tempatku melamar. Aku mempercepat jalannya mobil, karean ada hal penting. Jantungku deg-degan. Ada apa gerangan Kak Diana. Segera aku berlari kecil ke lift. Kutekan angka 14. Aku demikian gelisah. Orang-orang pun melirikku, sepertinya aku demikian gelisah. Semua turun di lantai 12. Lantai 13 kosong dan aku langsung dibawa naik ke lantai 14. Pintu lift terbuka dan aku keluar, serta berlari ke ruanmgan kerja Kak Diana. Semua sepi. Hanya ada beberapa OB. Aku menolak pintu kak Diana.
"Cepat kunci pintunya," kak Diana memerintah, seperti ada sesuatu yang ditakutkannya dan dia berdiri dari meja kerjanya yang besar menyongsongku.
Kak Diana langsung memelukku dan menciumi bibirku. Aku blingsatan.
"Ada apa?" tanyaku heran.
"Aku rindu dan dari tadi aku horny..."
"Lalu...."
"Aku mau kita boleh bersetubuh di sini."
"Kak... Apa sudah gila. Kan ini kantor?"
"Tak ada yang berani macam-macam padaku di sini. Pak direktur sudah pulang. Ayolah...." Kak DIana kembali menciumi bibirku dan mempermainkan lidahnya di dalam rongga mulutku. Aku membalasnya tanpa ragu.
"Kita ke hotel saja atau ke rumah?" pintaku. Kak Diana tersenyum dan langsung menggamit tasnya dan kami meninggalkan kamar kerjanya. Hari masih pukul 11.00. Kami booking sebuah kamar yang sederhana namun nyaman via HP. Kali ini Kak Diana yang nyetir mobil. Dia membawa mobol seperti kesetanan.
"Awas Kak, jangan sampai nyenggol atau kesenggol," kataku.
"Iya... iya. Aku udah tak tahan ni. Udah horny banget tau...."
Tanpa Ba-bi-bu, kami langsung memasukikamar. Kunci segera dikunci. Kak Diana langsung melepaskan semua pakaiannya.
"Ayo, pakaianmu di lepas. Kok bengong..." bentaknya. Aku melepas pakaianku. Setelah berdua bugil, Kak Diana menyerbuku dan langsung memelukku dan menicumi leherku dan bibirku. Kami kehilangan keseimbangan dan kami berdua terjadi di karpet. Kami bergumul dan saling memagut.
Kak Diana membalikkan tubuhku. Kini aku sudah dia tindih. Kemudian dia membalikkan tubuhnya lagi, hinga wajahnya menghadap kontolku dan memeknya persis di mulutku. Tinggi kami tidak terpaut jauh, hingga dalam pososo 69 itu kami benar-benar nyaman. Dengan buas Kak Diana menjilati kontolku.
"Ayo dong Yok. Memek kakak jangan dibiarin aja. JIlatin dong..."
Aku mulau menjilati memek KakDiana. Klentitnya yang gurih berwarna pink membuatku semakin bernafsu. Kak Diana terus menerus mendewsah dan menceracau.
Aku sudah tak tahan dan aku membalikkan tuuhnya dan mengambil posisi biasa. Langsung aku menusuk lubang memeknya dengan bulu jembut yang tercukup licin.
"Waaaawwwww......" Kak Diana histeris kecil. Dia langsung menrik tengkukku dan mengarahkan mulutku untuk mengisap teteknya. Aku lakukan apa yang diamuinya.
"Duuuhhhh... aku dah dari tadi horny. Aku sudah mau sampek..." jerit kecilnya. Aku terus menusuknya dan menghunjamkan kontolku ke dalam dan jauh lebih ke dalam lagi. Kak Diana menjerit lagi.
"Tahan sayang. Tahan tusukanmu lebih ke dalam lagiiiiii...." jeritnya. Aku menahan tusukan kontolku dan Kak Diana memeluku kuat sekali. Digigitnya leherku dan dijilati sekalian. Sebelah tangannya memeluk punggungku dan sebelah mencengkeram rambutku. Kedua kakinya dai jepit erat di pinggangku dan dia menjerit histeris.
"Huuuuu... sampeeeeekkkk...."
Aku terus menekannya dari atas, sampai cengkeraman rambutku melemah dan pelukannya juga melemah. Kucium pipinya dan aku berikan senyuman untuknya.
"Dai... gimana... udah enakan?"
"Tunggu aku ambil nafas dulu, yank..."
Aku melihat Kak Diana mengatur nafasnya sembari mengeluskan tangannya ke pipiku.
"Kamu benar-benar hebat, yank..." Dia tidak memanggilku Yok lagi. Akun mengecup keningnya. Kami saling mengelis, sementara kontolku yang tegang masih berada di sembunyi di dalam memeknya.
Perlahan aku menarik-cucuk kontolku ke dalam memeknya. Kak Diana tersenyum.
"Gak apa-apa kan yank, kalau kamu belakangan orgasme?"
"Gak apa-apa, yang penting Kak Diana bisa menikmati kepuasan," kataku. Aku mulai memainkan lidahku ke lehernya dan mengisapi serta menggigit kecil pentil teteknya. Tanganku terus mengelusi tubuhnya di bagian sensitifnya. Aku melihat gairah Kak Diana bangkit lagi. Dia sudah balas memelukku dan ikut menjilati bagian tubuhku dengan lidahnya yang lembut.
Tubuh kami sudah dilelehi keringat. Sesekali terasa keasinan tubuh Kak Diana dalam jilatanku, juga sebaliknya. Kami tak peduli. Akuma tubuh kami pun memencarkan aroma khas. Aroma itu justru membuat kami lebih bergairah lagi dan kami semakin sama-sama beringas.
Kak Diana membalikkan tubuhku. Kini dia sudah berada di atas tubuhku. Dia mulai memimpin hubungan seks kami. Dia tekan kuat-kuat pantatnya di atas tubuhku, hingga aku merasakan ujung kontolku benar-benar sudah kandas jauh ke ujung dalam di bagian memeknya. Kak Diana memutar0mutar pantatnya kekanan dan ke kiri. Kontolku terasa di putar-putar dan diremas-remas.
Aku tak tinggal diam. Aku meremas-remas tetek Kak Diana yang menggelantung putih bersih dan indah. Kulihat maranya merem, menikmati keindahan dan nikmatnya seks kami.
"Yank... kontolmu keras sekali, aku suka, Yoooookkkk....."
Tiba-tiba Kak Diana menarik tanganku dan membuatku duduk di atas tempat tidur. Kedua kakiku lurus menjuntai ke lantai, sementara Kak Diana masih berada dalam pangkuanku. Dia meluai memelukku dengan kuat dan menjilati leherku. Dadanya demikian rapat menggesek-gesek dadaku. Aku tak mampu lagi rasanya menahan spermaku.
Aku memeluknya dengan kuat sekali dan Kak Diana juga memelukku dengan kuat. Kami saling merangkul dan masi-masingh mendesah.
"Yaaaaank.... oh...." Kak Diana terus meliuk-liukkan tubuhnya dan aku terus juga memeluk tubuhnya dan menjilati lehernya.
"Dai... aku sampeeeekkkk....." teriakku sembari melepaskan smprotan spermaku. Dia makin kuat memelukku dan menjerit histeri kecil.
"Yaaaannnnkkkkk.... duuuuhhhh... gusstiiii..... enak yannnkkk..."
Crot. Untuk kedua kalinya aku melepaskan spermaku ke dalam rahimnya. Kak Diana kembali histeris dan kembali mencengkeram rambyutku dan leherku di gigitnya. Aku memeluknya kuat dan terlepas pula tembakan spermaku untuk ke tiga kalinya. Terasa lebih banyak dari yang pertama dan kedua. Kak Diana menjerit.
"Keluarkan yang banyak yaaaannnnnkkk...."
Crooooottt... keluar lagi spermaku yang ke empat kalinya dan yang terakhir dan aku puin memeluknya sangat kuat. Kak Diana menjerit lagi sembari memeukul punggungkku kuat. Aku tak merasa sakit atas pukulannya.
Aku mendengarkan desahan nafas Kak Diana, sembari mengulum cuping telingaku. Lidahnya terus menjilati leherku dengan desah nafasnya yang kuat.
"Terima kasih yaaannnkkkk.... Aku puaaaaassss..."
"Terima kasih juga Dai. Aku juga puas...." balasku dan kami terkulai di atas tempat tidur. Kutarik selimut agar kami hangat dalam selimut, tak masuk angin di terpa AC.
Kami bangun setelag pukul 15. Kami tersenyum dan kami mandi ke kamar mandi dengan shower air panas. Sekujur tubuh kami guyur dan kami kembali segar.
"Kitacepat pulabng kataku."
"Kita lanjutkan di rumah ya?"
Duh... dila banget, pikirku. Pantas suaminya cari perempuanlain, karean kakakku yang satu ini memang binal dan buas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar