Minggu, 21 Agustus 2011

Ketika Tsunami Terjadi (1)

Semua hiruk pikuk. Tak ada yang tau bagaimana keadaan demikian cepet bisa memorakporandakan kampung. Linda dan Maskun terhenpas olehombak. Kedua ibui bapa mereka tak tau kemana. Saudara-saudara mereka juga tak tau kemana. Yang diketahui LInda, saat matanya terbuka dengan tubuh lemas, dia berada di sebuah hutan dan lama dia baru bisa sadar, kalau terjadi bahaya. Suara gemuruh, kemudian kayu
berderak-derak dan orang-orang berteriak, kemudian rumahmereka dibantai ai4r dari luar dan hancur. Ketika itu mereka sekeluarga sedang makan pagi dengan cerita.

Linda menangis karena tak ada orang di sekelilingnya. Maaaakkkk.... demikian Linda berteriak. Tak ada jawaban. Di sisi lain, Maskun juga tersadar. Lamat-lamat dia bangkit dan mendengar suara teriakan. Dia yakin sekali itu suara Linda adiknya dan dia pun memanggil nama adiknya. Mereka bersahut-sahutan. Dengan tubuh lunglah Maskun mendekati suara dan dalam jarak 20 meter dia melihat adiknya Linda 15 tahun dengan pakaian compang camping. Baru Maskun melihat tubuhnya sendii, yang tinggal celana jeans yang kuat dan bajunya juga compang samping.

"Kina dimana, Uda..." tanya Linda. Mereka berangkulan. Linda hanya memakai rok yang compang camping dengan tubuhnya ada bercak-bercak darah yang sudah mengering, tinggal terasa perihnya. Maskun juga tubvuhnya penuh bercak darah. Maskun tak menjawab pertanyaan adiknya. Dibimbingnya adiknya ke tepian sungai. Alir sungai yang kecil, namun jernih. Maskun pergi ke sebatang pohon, dia menemui masih ada jalaran daun sirih. Maskun ingat kalau mereka berada di suatu tempat yang biasanya dia berburu di sana. Dibersihkannya luka tubuh adiknya, mulai dari bagian kaki, paha, perut dan di bawah buah dada. Kemudian luka-luka itu ditempelinya dengan kunyahan daun sirih. Mulanya terasa perih, namun kelamaan luka akan menyatu. Demikian juga padanya.

Mereka pun ditolong oleh orang-orang pada keesokan harinya. Sebelum mereka bertemu dengan orang, Maskun tak mamu membawa adiknya kemana-mana. Maskun mengmpulkan apa yang ada. Banyak [pakaian sobek tersangkut di pepohonan, kemudian dijalin dengan baik. Maskun membuat sebuah tempat tidur dari kain. Kedua ujung kain diikatkan pada pohon kayu agak ketinggian. Linda yang didudukkan di pohon tinggi karena pergelangan kakinya terkilir, terpaksa digendong oleh Maskun (21 tahun).

Maskun berjalan menyusuri hutan yang tersapu Tsuami. DIa mendapatkan dua kotak mie instan, ada beberapa bungkus sudah rusak tapi masih banyak yang masih utuh. Dia terus mencari dan mencari apa saja yang dibawa oleh gelombang ke sebalik gunung itu. Untung Maskun mendapatkan beberapa buah mancis, ada rantang dan sebagainya. Semua dia bawa ke tempat adiknya yang didudukkan.

Maskun pun mencari ranting-ranting kayu yang mudah kering. Mengisi rantang dengan air anak sungai yang termasuk jernih. Ranting kayu yang banyak itu di bakar dan ranting kayu yang masih lembab diletakan di tepian api agar cepat kering. Dengan lahap, Masmkun makan bersama LIna adiknya itu. Ketika Maskun mau pergi mencari pertolongan., Linda si manja tak mau ditinggalkan.
Maskun yang pernah mendapat latihan Pramuka selama 7 tahun dari siapa sam;pai penegak, mampu hidup survive. Malamnya mereka pun tidur dalam sayu ayunan di antara dua pohon. Kain-kain yang mereka cuci tadi siang masih lembab, hingga tak bisa dipakai jadi selimut.

Linda si imut memang sangat penakut. Sedikit saja ada suara aneh baginya, dia langsyung memeluk Maskun abangnya. Mereka pun berpelukan sepanjang malam. Saat Linda tertidur nenyak dalam pelukan abangnya, saat itu Maskun terbangun. Saat itu juga iblis merasukinya. Dia lupa pada ibo-bapa adik adik-adiknya dan lupa kepada siapa saja, apakah mereka masih hidup atau belum. Maskun sedang memeluk adiknya, yang hanya memakai rok robek-robek dan tingall celana dalam serta bra juga sudah dilepas, karena untuk mengobati luka di bawah payudaranya

Maskun terangsang. Teyek adeknya yang demikian mengkal, menyatu dengan dadanya. Kontolnya bangkit berdiri. Perlahan, Maskun menjilati pentil tetek adiknya yang masih mungil itu.
"Kenapa Bang?" tanya LInda tiba-tiba terbangun.
"Sudah tidur saja..." Mskun setengah membentak.
"Hmmm..." adiknya merengek dan memeluk Maskun. Maskun tyerus menjilati dan mengisa-isap pentil tetek adeknya. Sebelah tanganya mengelus-elus memek Linda yang belum berbulu.
"Hhmmmm...." Linda kembali dengan manjanya.

Kemanjaan Linda itu, membuat Maskun semakin bernafsu. Dia terus menjilati tetek adiknya dan mengelus-elusnya samopai akhirnya Maskun dapat menjilati memek adiknya.
"Hhhmmmm....." Linda kembali mendehem manja dan menjepit kepala Maskun dengan kedua kakiknya. Maskun terus menjilatinya.

"Bang... aku mau pipis...." kata Linda manja. Maskun diam saja tak menghentikan jilatannya pada memek Linda, sampai akhirnya menjepit lebih kuat lagi kepala Maskun

Setelah jepitan melemas, Maskun mengangkangkan kedua kaki adinya dan menekankan penisnya ke memek Linda. Saat ditekan, Linda menjerit di tengah malam di tengah hutan itu.
":sakiiiiiiitttt," katanya. Maskun yang kesetenan tidak perduli dan terus menekan sampai semuanya masuk ke dalam. Menahannya sejenak dan Linda masih terus menangis. Perlahan Maskun mengocok penisnya dan Linda pun mereda tangsisnya sampai Maskun juga melepaskan spwermanya.
Mereka pun tertudr pulas malam itu, sampai matahari meninggi menusuk mata, baru mereka terbangun. Cepat Maskun mandi dan bersih diri lalu memasak makanan untuk mereka. Di bopongnya adiknya turun dan mereka duduk berdua.

"Percayalah besok atau lusa, pasti datang bantuan, karena inibencana," kata Maskun. Dia pun beru[paya membuat tenda darurat untuk mereka berdua. Setelah Maskun meneliti sampai 300 meter, Maskun mendapatpi banyak barang-barang yang isa dimanfaatkanya. Dia mengerti, kalau bencana ini sangat besar. Diambilnya sebuah radio kecil dan beberapa buah battery. Di bersihkannya radio itu, sampai diperiksa sedetil mungkin, karena dia adalah mahasiswa D3 elektronika. Akhirnya radio itu bisa dipakai dan mereka mendengar berbagai berita, tahulagh mereka, kalau mereka korban Tsuanmi.

bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar