Minggu, 21 Agustus 2011

Ibuku Janda (3)

Ibuku tidak setuju, kalau aku kos. Lagi pula, jarak buguk kami dengan SMU tempat sekolahku hanya 11 Km. Akhirnya, aku setuju, dibelikan sepeda. Lagi pula aku kasihan melihat ibu, akan sendirian di gubuk. JIka ada apa-apa, tentu tidak ada yang menolong ibuku.
Dengan pohon bambu yang rimbun tumbuh di tepian sungai, aku memperbesar kandang kambingku dan akhirnya aku mampu membeli seekor lembu betina. Bebek bertambah demikian juga ayam. Aku harus kerja keras, agar aku bisa sekolah tinggi. Bisa jadi sarjana, seperti cita-cita ibuku. Aku akan membawa pindah ibuku, kalau aku sudah mendapatkan pekerjaan. Aku juga melarang ibuku untuk tidak terlalu keras bekerja. Ibuku harus tetap sehat dan cantik, agar dia bisa menyaksikan aku nanti jadi sarjana. Ibuku tersenyum.
"Ya, aku akan tetapcantik," katanya tersenyum. Ibuku memang pendiam. Dia tidak pernah ke pekan. Dia hidupnya hanya di ladang dan sawah. AKu yang selalu belanja membeli beras dan keperluan lainnya, setelah aku mencatat apa yang kami butuhkan untuk dibeli.
Sepedaku memang sepeda bekas. Tapi aku yakin sepeda itu kuat. Setiap pagi aku naik sepeda ke sekolah. Seusai subuh, aku makan kenanyang, lalu mengayuh sepedaku dengan membawa telur. Terkadang aku membawa genjer, pesanan nenek pemilik warung, untuk dijualkan di warungnya. Sedikit cabai atau apa saja, jika aku berikan, nenek pasti menerimanya dan menjualkannya, lalu diberikan uangnya padaku. Terkadang nenek pemilik warung itu, tidak menerima pembagian hasil. Aku sadar, kalau dia adalah nenek kandungku. Aku pun menyadari, kalau dia menyayangiku dan merindukan untuk memelukku atau apalah namanya. Aku pura-pura saja tidak mengetahui siapa dia sebenarnya. Ketika itu kuceritakan pada ibuku, ibuku tersenyum pahit. Ibu tahu, kalau aku sudah mengetahui segalanya. Nampaknya ada kepuasan pada ibuku, karean keluarganya mulai menyayangiku, tapi aku pura-pura tidak tahu. Aku dan ibuku tahu, kalau kakek dan nenek mulai menyadari kesalahan mereka.
Sepulang sekolah, cepat aku makan dan berganti pakaian. Aku membantu ibu panen padi dan mengakatinya ke lumbung padi yang mungil. Butir-butir padi yang berjatuhan, mulai dimakani oleh bebek dan ayam. Aku tersenyum saja.
Aku bercerita, kalau tadi siang orang di kedai nenek bercerita mengatakan aku mirip dengan Parjo.
"Wajah si Wongso ini mirip sekali dengan Parjo. Sedikit pun tidak membuang," kata mereka. Dan nenek mendelik pada orang yang mengucapkan itu. Aku bertanya pada ibu, siapa Parjo itu. Dengan linangan airmata, ibu pun bercerita siapa Parjo dan dimana rumahnya dan apapekerjaannya. Aku terkesima, kalau Parho itu adalah ayahku yang menghamili ibuku sekian belas tahun lalu dan tidak mengakuinya. Aku geram. Ibu melarangku marah. Aku harus membuktikan aku bisa jadi sarjana dan lebih baik dari anak-anak Parjo kelak. Jangan dendam. Kalau ditegur, jawab saja dengan lembut dan santun. Jawaban lembut dan santun, akan membuatnya semakin hancur. Kita harus balaskan dendam kita dengan keberhasilan kita, kata ibu padaku. Aku mengikuti saran ibu.
"Ini hari apa bu," tanyaku. Ibu tersenyum.
"Ibu ingat, malam ini jatahmu, Nak. Ibu juga sudah kepingin sekali, tapi janji kita dua kali seminggu, harus kita pegang," kata ibu sembari memarut ramuan jamunya. Dan sudah hampir dua tahun aku menyetubuhi ibuku, ibuku memang tidak hamil. Malamnya kami melakukan persetubuhan yang luar biasa. Kami sama-sama merindu dan sama-sama membutuhkannya. Biasanya setiap pagi, aku akan kembali segar, bila malamnya aku menyetubuhi ibuku.
Siang ini aku pulang sekolah, aku melihat Parjo ada di gubuk kami dan ibu sedang membentaknya. Aku mempercepat laju sepedaku. Setelah sepeda kusandarkan, aku menurunkan keranjang tempat telur, langsung kudekati Parjo, tapi aku bertanya tegas pada ibuku.
"Apa apa, Mak?" kutatapwajah Parjodengan lekat.
"Gak apa-apa?" kata ibu lembut.
"He... ada apa. Koe apain ibuku?" aku menggenggam arit rumput yang baru kemarin sore aku asah tajam. Melihat mataku melotot dan siap mengayunkan arit, ibuku memelukku.
"Jangan So. Aku tidak diapa-apain kok. Usir saja dia pigi dari gubuk kita ini," pinta ibuku.
"Kalau koe tidak segera angkat kaki, kusabit lehermu. Segera pergi. Satu...dua..." aku menghitung. Dengan cepat Parjo meninggalkan gubuk kami. Saat itu, ibu memeluk tubuhku dan menangis. Aku menanyai ibu, apa yang terjadi. Ibu mengatakan, agar ibu mengizinkan Parjo boleh ikut menyekolahkannya. Ibu berang, kenapa setelah Parjo besar, baru mau ikut menyekolahkannya. Ibu terus memelukku dan teteknya menempel di dadaku. Aku membelai rambutnya dan mencium lehernya. Tetangga kami menyaksikan kami dari kejauhan dan akhirnya mereka kembali mengerjakan ladang mereka. Aku membimbing ibu ke dalam gubuk dan aku mengganti pakaian sekolahku. Tapi... kontolku tegang saat dipeluk erat oleh ibu. Hanya dengan memakai celana dalam aku mendekati ibu yang sedang melap airmata di pipinya, aku membisikinya.
"Maaak... aku mau. Izinkan aku..." langsung kupeluk ibuku dan mencium bibirnya. Ibu langsung meresponsnya dan kami berciuman. Lidah kami saling berkait dan kami saling menyedot lidah bergantian. Ketika aku melepaskan kain batiknya, ibu mengatakan dia sedang haid. Tadi pagi haidnya datang. Aku kecewa. Ibu tau aku kecewa.
"Jangan kecewa. Ada jalan keluar. Aku dengar dari tetangga," katanya. Cepat di mengambil minyak goreng, dilumaskannya ke kontolku dan ke duburnya. Lalu ibu telungkup dan memintaku menaikinya. Aku enggak mengertyi kenapa kontolku dilumasi dan ibu telungkup. Aku menindih ibu. Dituntunnya kontolku memasuki lubang duburnya.
"Ayo tekan perlahan-lahan," katanya. Aku menekan kontolku. Sulit sekali masuknya. Ibu memintaku agar menekannya lebih kuat lagi dan aku menekannya, sementara kontoljku dalam genggaman tangan ibu. Aku merasakan kontolku memasuki ruang sempit. IBu meringis kuat.
"Sakit, Mak?" tanyaku kasihan.
"Sedikit. Tahan dulu... yah. sudah tekan lagi perlahan," kata ibu dan aku menurutinya. Kontolku sudah lebih separo yang masuk. Ibu meminta aku menahannya sebentar dan aku menahannya. Setelah dua menit ibu meminta agar aku memompanya, bagaimana aku biasa memompa memek-nya. Perlahan aku memompanya. Terasa kontolku seperti di remas-remas. Aku mulai menikmatinya dan ibu mulai mendesah nikmat. Sampai akhirnya aku memuntahkan spermaku.
Akhirnya kesepakatan kami, tidak dua kali seminggu kami melakukan persetubuhan, melainkan tiga kali. Dua kali kami senggama memalui memek dan sekali melalui dubur. Ibu pun akhirnya menikmati persetubuhan kami melalui apa saja dan ibu tak pernah hamil.
Setelah aku mengandangkan kambing dan anak l;embu betina yang baru aku beli, juga ayam dan bebek, aku ke kedai membeli minyak tanah. Aku ketemu dengan Parjo. Kutatap dia dengan tajam, lalu kukeluarkan pisau dari sakuku. Kulihat Parjo tertunduk takut. Setelah aku membeli minyak tanah, kudekati dia.
"Jangan sekali-kali lagi kau dekati ibuku. Kubunuh kau," kataku tegas. Dia diam dan menunduk. Aku melihat airmatanya berlinang.
Aku tidak ingin ibuku menikah lagi dengan laki-laki yang tak bertanggungjawab. Lagi pula kebutuhan ibu lahir bathin, mampu kupenuhi demikian sebaliknya.
Kini aku sudah tamat SMU. Aku masuk D-3. Aku berharap, sebentar lagi aku bisa bekerja dan memboyong ibu ke konta, meninggalkan gubuk kami yang reot.

1 komentar: