Minggu, 21 Agustus 2011

Dendamku (2)

Padi sudah bunting. Abangku harus bekerja di kebun karet bersama bapakku, sedang ibuku tetap berjualan di pasar. Untuk mengawasiku, diperintahkan adikku bernama Tono berusia setahun di bawahku, yakni 13 tahun. Jika aku berhasil menggodanya, tingga tiga abangku yang harus kugoda. Agar mereka semua bisa kuperbudak untuk melepaskan dendamku.


Kebun karet kami hanya berkisar 500 meter dari kampung. Hanya saja kebun karet itu letaknya di selatan, sedang sawah kami letaknya di Timut. Sedangkan ladang tanah darat, letaknya di Utara. Dari kampung semua tempat berkisar 500 meter sampai 600 meter. Hanya pasar tempat ibuku berjualan letaknya hampir 1 kilo meter.
Kami hanya ditugasi mengangon dua ekor kerbau sembari ami harus mengusir burung dari dangau bersama adikku Tono. Dia sudah bersunat. Dan tingginya melebihi tingi tubuhku. Sebagai adikku yang bungsu dan aku satu-satunya perempuan, dia memang sngat dimanja oleh semuanya, terlebih olehku. Tapi dia suka nakal. Terkadang aku yag mengerjakan pekerjaannya, sementara dia pergi bermain bola dengan teman-temannya. Tapi kali ini, dia harus aku berikan pelajaran. Pokoknya semua isi keluarga harus mampu kuperdaya. Terlalu sakit bagiku yang diperkosa, justru aku yang dipersalahkan dan tidak boleh melaporkan kepada siapapun, karena harus menjaga aib keluarga.

Setelah menambatkan kerbau tak jauh dari sawah, agar kerbau tidak memakan padi yang sedang bunting bahkan ada sebagian yang sudah keluar dari perutnya, kami duduk mengawasinya dan mengawasi burung dari atas dangau. Aku selalu memepetnya dan mulai menempelkan tetekku pada tubuhnya. Aku sengaja duduk mengangkang dan memperlihatkan pahaku dan celana dalamku antara kelihatan dan tidak. AKu ajak dia bercerita semabri mengusir burung-burung. Mulai dari cerita sepak bola sampai kepada cerita Bik Warni yang pernah sekali kupergoki, ketika adikku mengintipnya mandi.
"Waktu itu Bik Warni mandinga telanjang Ton?" tanya. Dia menceritakan kalau Bik Warni teteknya besar sekali. Memangh benar, mungkin di kempung kami tetek Bik Warni dan Tetek Supiyah yang terbesar.
"Rambut itunya lebat, enggak," tanya terkikikan seakan malu-malu. Tono mulai bercerita tentang Bik Warni. Kemudian dia juga dia bercerita, kalau Bik Warni bersetubuh dengan suaminya dan diintip. Kalau di mandi dan diintip oleh Tono dan dua orang teman-temannya, Bik Warni tersenyu saja. Dia tahu siapa yang mengintip, tapi membiarkannya saja. Aku mulai memancing dengan pertanyaan, menurutnya bagaimana tetekku.

"Pasti lebih kecil." katanya.
"Kamu kalau dikasi kesempatan mau enggak mengisap tetek Bik Warni yang besar itu," pancingku. Tono terkekeh sembari mengsir burung. Burung-burung yang diusir pun bertebangan.
"Mana mungkin dia menyuruh kami megisap teteknya." Tono menjawab sekenanya.
"Kalau senadainya di suruh, mau enggak?" tanyaku. Lagi-lagi Tono terkekeh.
Bercerita seperti itu, sesekali Tono memegang burungnya. Mungkin dia sudah terpengaruh. Aku mulai memancing lagi.
"Kalau tetek ku, kalau aku suruh kamu mengisapnya, kamu mau enggak, Ton?" kataku. Dia melihatku,. Dadaku berdebar-debar menunggu jawabannya. Tono kemudian menunduk dan tidak menjawab.
"Hayo dijawab dong, masak ditanya aja kamu enggak mau jawab. nanti aku tak mau lagi bermain dengan kamu," kataku seolah merajuk. Tono tetap tak menjawab. KUtarik kaos ku ke atas dan aku memang tidak pakai BH. Kuperlihatkan tetekku pada Tono.
"Ini Ton, ayo dong..." kataku. Tono hanya melihatnya saja dan tersenyum. Aku melirik celananya yang sudah mulai menyalah.. Kuraih tangannya dan kuarahkan ke tetekku agar dia mengelusnya. Uh... tangan itu menempel di tetekku.
"Di eleus-elus," kataku. Tono melakukannya dan aku menjadi birahi dibuatnya. Burung-burung sesekali kami usir. Tono juga tidak perhatian lagi kepada burung-burung.

Kutarik tengkuknya dan mengarahkan bibirnya ke tetekku yag mungil dan kenyal.
"Diisap, dik," kataku. Tono mulai mengisapnya perlahan-lahan. Aku semakin merasakan nikmat. Aku menidurkan tubuhk dan meminta tono mengisapnya dari atas. Tono pun melakukannya. Aku juga meraba-raba burungnya. KUmasukkan tanganku ke dalam celananya dan mengelus burunga yang semakin mengeras. Smapai akhirnya aku memegang kuat kepalanya dan aku pun orgasme.

Aku kembali mengsir burung. Tono mulai memindahkan kerbau dan mengarit rumput seadanya. Setelah mahgrib kami pulang ke rumah. Kami tersenyum-senyum saja. Besok paginya kami pergi lagi ke sawah mengsuir burung dan membawa dua ekor kerbau. Kami kembali melakukannya. Sampai pada hari ke empat, Tono yang melakukannya sendiri tanpa permintaanku. KUlayani saja permintaannya. Hari berikutnya, Tono bercerita bagaimana Bik Warni disetubuhi oleh suaminya. Aku hanya mendengar saja tak memberikan respons apa-apa. Hanya tanganku saja sebelah menerik-narik tali pengusir burung dan sebelah lagi mengelus-elus burungnya. Dua burung sekaligus. Satu burung-burung yang bisa terbang yag satunya lagi burung yang bisa mengeras.

"Kita seperti Bik Warni, yuk..." katanya. Aku diam tak menjawab. Ketiga kali dia mengajak, aku merebahkan tuuhku di lantai dangau yang berdinding itu. AKu menutup mataku berpura-pura keletihan. Hanya beberapa detik menunggu, Tono mulai menyingkap rokku dan menurunkan celanaku. Aku diam saja. Kuintip dari sudut mataku, Tono melepaskan celananya. Saat itu perlahan kukangkangkan kedua kakiku. Tono mencelupkan burungnya ke memekku. Berkali-kali tak bisa masuk, karean dia tak tahu lubangnya. Kuangkat sedikit pantatku dan saat Tono persis burungnya di lubangku, kucangkat pantatku sampai kepala burungnya memasuki lubangku. Saat itu Tono langsung menekannya dan menindihku.
"Kok.. kamu berbia\uat ini pada kakakmu, dik?" tanya ku pura-pura, tapi nadaku tidak marah. Seakan heran saja. Tono nampaknya sudah tak perdulu dan terus menekan burungnya memasuki memekku. Kudiamkan saja. Kemudian secara laruirah atau memang karean mengintip, Tono mulai mencucuk cabut burungnya dalam memekku. Tak lama dia melenguh dan menekan kuta tubuhku. Saat itu kulingkarkan kedua kakiku ke pingangnya agar dia tak mencabutnya. AKu merasakan semprotan spemanya dalam lubangku dan aku menjepit pinggangnya dengan kuat di pinggangnya, baru kulepas setelah aku juga melepas nikmatku.. Perlahan aku merasakan burungnya keluar dari lubangku.

Cepat Tono memakai celananya dan aku duduk termenung. Dia lari ke kerbau dan memindahkannya dan kemudian menyabit rumput. Pulangnya kami sama-sama diam. Aku tak mau menegurnya seakan marah. Besok paginya kami sama-sama diam ketika menyeret kerbau kami ke sawah dan menambatkannya di tempat lainpula. Dari atas dangau dia sendiri yang berteriak-teriak mengusir burung, sementaraaku hanya menarik-narik tali saja. Kupancing lagi dengan dengan memperlihatkan celan dalamku. AKu tau matanya terus menerus meliriknya.

"Kayak kemarin lagi yuk..." suaranya perlahan. Aku diam saja. Aku hanya menolehnya sejenak saja.
"Kayak kemarin dong," katanya lagi. Aku diam. Smapai akhuirnya atu ditariknya untuk rebah. Kau sudah kena, pikirku. Aku diam. Tono menyingkap rokku dan melepas celana dalamku. Kemudia menusukku dan kami bersetubuh. AKhirnya kamu melakukannya secara teruatur tiap hari sekali. Tono mulai kuperintah. Mengatakan aku letih terus menerus disetubuhinya. Aku mau memandikan kerbau, tapi aku tak mau lagi disetubuhi, kataku. Atau kulaporkan pada ayah dan ibu, kalau kamu juga telah memperkosaku, ancamku. Kulihat wajahnya pucat. Akhirnya dia mnegerjakan semua pekerjaan. Aku hanya tinggal menarik-narik tali saja. Tono juga yang berteriak-teriak mengusir burung.
Terkadang kami melakukannya dimana ada kesempatan. Tapi aku tetap berusaha tidak meminta. Jika aku ingin, aku sengaja memancingnya dan jika burungnya sudah mengeras dia pasti meminta bahkan memaksa. AKu pun pura-pura mau, padahal aku memang juga mau.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar